C. Pembelajaran Bahasa Inggris Terintegrasi Pendidikan Sains: Sebuah Kewajiban
Integrasi bahasa Inggris dan sains bukan sekadar inovasi pedagogis, melainkan sebuah kewajiban strategis.
Pendekatan interdisipliner ini mendorong higher order thinking skills (HOTS), kreativitas, dan kemampuan komunikasi ilmiah sejak usia dini (Trilling & Fadel, 2021).
Beberapa Penelitian jurnal Scopus menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar yang belajar sains melalui integrasi bahasa kedua memiliki peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep dan motivasi belajar (Lo & Lin, 2022; Yang & Gosling, 2023).
Selain itu, integrasi ini memperkuat kesiapan siswa menghadapi kurikulum menengah dan perguruan tinggi yang semakin berorientasi global.
D. Indonesia Tertinggal: Terlambat Mengajarkan Bahasa Inggris dan Sains di SD Sederajat
Indonesia relatif tertinggal dalam mewajibkan bahasa Inggris di SD. Selama bertahun-tahun, bahasa Inggris hanya diposisikan sebagai muatan lokal atau pilihan, sehingga terjadi kesenjangan kompetensi antardaerah (Lie, 2017).
Padahal, banyak studi menegaskan bahwa keterlambatan pengenalan bahasa asing berdampak pada rendahnya academic language proficiency di jenjang selanjutnya (Cummins, 2021).
Dalam bidang sains, pembelajaran di SD sering kali masih berorientasi hafalan dan minim eksperimen. Hal ini berkontribusi pada rendahnya literasi sains siswa Indonesia dalam asesmen internasional (OECD, 2022).
Kebijakan terbaru yang mendorong penguatan sains dan bahasa Inggris di pendidikan dasar merupakan langkah korektif yang strategis, meski implementasinya masih menghadapi tantangan kesiapan guru dan sarana.







