c. Konsistensi kebijakan ini menjadikan Singapura unggul dalam literasi sains dan teknologi global (Gopinathan, 2018).
- Brunei Darussalam
Brunei mulai menerapkan sistem Dwibahasa (Dwibahasa Policy) pada 1985, di mana bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar sains dan matematika mulai sekolah dasar. Sistem ini diperkuat melalui SPN21 Curriculum sejak 2009 (Ministry of Education Brunei, 2019).
- Filipina
Filipina menerapkan Bilingual Education Policy sejak 1974, dengan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar sains dan matematika di pendidikan dasar. Kebijakan ini diperkuat kembali melalui K–12 Basic Education Program tahun 2013 (Tupas & Lorente, 2019).
- Thailand
Thailand mulai memperkenalkan English Program (EP) dan Mini English Program di sekolah dasar sejak awal 2000-an, dengan penekanan kuat pada sains dan matematika berbahasa Inggris di sekolah unggulan (Foley, 2020).
- Vietnam
Vietnam memasukkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar sejak 2010, dan memperluasnya melalui National Foreign Languages Project 2020, termasuk integrasi dengan pembelajaran sains (Nguyen, 2021).
Berdasarkan data komparatif di atas, negara-negara ASEAN dan Asia Timur telah mengintegrasikan pembelajaran Bahasa Inggris dan Sains di pendidikan dasar jauh lebih awal dibanding Indonesia.
- Indonesia baru merencanakan penguatan Bahasa Inggris di SD pada kisaran 2027/2028.
- Dibanding Malaysia dan Filipina, Indonesia tertinggal sekitar 30–40 tahun.
- Dibanding Korea Selatan, Indonesia tertinggal sekitar 30 tahun dalam penguatan Bahasa Inggris SD dan lebih dari 50 tahun dalam penguatan sains berbasis eksperimen.
- Dibanding Singapura, Indonesia tertinggal lebih dari 50 tahun dalam integrasi Bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu dan sains.
Kondisi ini menunjukkan bahwa percepatan pembelajaran Bahasa Inggris dan Sains di SD bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan strategis bahkan kewajiban untuk mengejar ketertinggalan regional dan global.







