Integrasi bahasa Inggris dan sains di tingkat SD memungkinkan anak tidak hanya belajar bahasa sebagai struktur gramatikal, tetapi sebagai alat berpikir dan eksplorasi dunia.
Pendekatan Content and Language Integrated Learning (CLIL) terbukti meningkatkan kompetensi bahasa sekaligus pemahaman konsep sains pada peserta didik usia dasar (Coyle, Hood, & Marsh, 2019).
B. Pendidikan Negara ASEAN dan Asia Timur: Bahasa Inggris dan Sains
- Korea Selatan
a. Korea Selatan mulai memperkenalkan Bahasa Inggris di sekolah dasar secara nasional pada tahun 1997, dengan penguatan signifikan sejak Kurikulum Nasional 2008 yang menempatkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran inti mulai kelas 3 SD.
b. Pembelajaran sains di SD Korea Selatan bersifat wajib sejak 1950-an, dengan penekanan kuat pada eksperimen, inquiry-based learning, dan literasi STEM.
c. Sejak awal 2000-an, Korea Selatan mengembangkan English immersion dan English-mediated science learning di sekolah unggulan sebagai strategi daya saing global (OECD, 2021).
- Malaysia
a. Malaysia mengajarkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar sejak awal 1970-an pasca-penguatan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.
b. Bahasa Inggris diposisikan sebagai instrumen kompetensi global dan akses ilmu pengetahuan.
c. Pada tahun 2003–2012, Malaysia mengajarkan Sains dan Matematika dalam Bahasa Inggris melalui kebijakan PPSMI (Gill, 2014).
- Singapura
a. Sejak kemerdekaan tahun 1965, Singapura menetapkan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama pendidikan dasar.
b. Sains diajarkan sepenuhnya dalam Bahasa Inggris di primary school sebagai standar nasional.







