Pangeran Kodok, GPS Ajaib, dan Jalan yang Nyasar

Pangeran Kodok tampak kebingungan dengan ekspresi lucu saat mengikuti GPS ajaib. Foto: Madi/ AI

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang dikelilingi hutan lebat, sungai jernih, dan bukit-bukit hijau, hiduplah seorang pangeran bernama Pangeran Raka.

Namun, ada sesuatu yang sangat aneh dari Pangeran Raka.

Ia bukan manusia.

Ia adalah seekor kodok.

Bukan kodok biasa, tentu saja. Pangeran Raka sebenarnya adalah seorang pangeran tampan yang terkena kutukan penyihir. Karena kesalahan kecil yang sebenarnya tidak terlalu kecil—ia pernah menertawakan sepatu penyihir yang berbeda sebelah—sang penyihir mengubahnya menjadi kodok.

“Mulai hari ini,” kata penyihir, “kau akan menjadi kodok sampai menemukan jalan pulang ke istanamu.”

“Jalan pulang? Istana saya cuma di sebelah sana!” protes Raka.

“Bagiku, semua jalan adalah perjalanan.”

Kemudian penyihir menghilang.

Pangeran Raka melompat-lompat menuju istana.

Namun baru beberapa menit berjalan, ia menyadari masalah besar.

Ia tersesat.

“Bagaimana mungkin?”

Ia melihat ke kiri.

Pohon.

Melihat ke kanan.

Pohon.

Melihat ke depan.

Pohon lagi.

Bahkan ketika menoleh ke belakang, yang terlihat tetap pohon.

“Kerajaan macam apa ini? Pohonnya terlalu banyak!”

Raka mencoba mengingat jalan.

“Seharusnya tadi belok kiri di batu besar…”

Ia menemukan batu besar.

“Lalu belok kanan setelah pohon yang batangnya miring.”

Ia menemukan tiga puluh pohon yang batangnya miring.

Raka mulai pusing.

“Kenapa semua pohon di hutan ini seperti ikut rapat dan sepakat membingungkanku?”

Saat itulah ia melihat sebuah benda berkilau di antara semak-semak.

Sebuah kotak kecil berwarna keemasan.

Raka mendekat.

Di atasnya terdapat tulisan:

GPS AJAIB

“GPS?”

Raka pernah mendengar benda itu dari para pedagang kerajaan.

Katanya GPS bisa menunjukkan arah.

“Wah! Akhirnya ada teknologi yang bisa menyelamatkan pangeran kodok!”

Raka membuka kotak tersebut.

Tiba-tiba muncul cahaya biru.

Suara terdengar dari dalam.

“Selamat datang, pengguna.”

Raka terkejut.

“Siapa kamu?”

“Aku GPS Ajaib.”

“Bisa menunjukkan jalan pulang?”

“Tentu.”

Raka tersenyum lega.

“Bagus! Arahkan aku ke Istana Kerajaan.”

GPS berbunyi.

“Rute ditemukan.”

Sebuah anak panah bercahaya muncul.

Raka mengikuti anak panah tersebut.

Ia berjalan melewati semak-semak, menyeberangi sungai kecil, melewati bukit, dan akhirnya sampai di sebuah jalan bercabang tiga.

GPS berbunyi.

“Belok kanan.”

Raka belok kanan.

Lima menit kemudian…

GPS berbunyi lagi.

“Silakan putar balik.”

Raka berhenti.

“Apa?”

“Silakan putar balik.”

“Kamu tadi menyuruhku belok kanan!”

“Benar.”

“Sekarang kenapa suruh balik?”

“Karena setelah kamu belok kanan, jalan yang benar menjadi jalan yang salah.”

Raka menatap GPS dengan kesal.

“Jadi kamu baru sadar sekarang?”

“Data sedang diperbarui.”

Raka menghela napas.

“Baiklah.”

Ia berbalik.

Baca Juga :  Si Kancil dan WiFi Kerajaan: Siapa yang Punya Password?

Setelah berjalan cukup jauh, GPS kembali berbunyi.

“Belok kiri.”

Raka mengikuti.

Beberapa menit kemudian ia sampai di sebuah desa.

Warga desa melihat seekor kodok membawa GPS.

Mereka langsung berkumpul.

“Lihat!”

“Ada kodok bicara!”

“Dia membawa benda bercahaya!”

“Jangan-jangan dia penyihir!”

Raka menjelaskan,

“Aku Pangeran Raka.”

Semua warga diam.

Kemudian seorang nenek bertanya,

“Pangeran kok kodok?”

“Karena kutukan.”

“Oh.”

Nenek itu mengangguk seolah semuanya masuk akal.

“Kalau begitu, silakan masuk.”

Raka menginap di rumah nenek tersebut.

Malam harinya, ia bertanya,

“Nek, apakah Nenek tahu jalan menuju istana?”

“Tentu.”

Raka tersenyum.

“Bagaimana?”

Nenek menunjuk jalan di depan rumah.

“Lurus saja.”

Raka terdiam.

“GPS saya bilang belok kiri.”

Nenek tertawa.

“Kalau begitu, kamu mau percaya GPS atau nenek yang tinggal di sini selama tujuh puluh tahun?”

Raka melihat GPS.

GPS diam.

“Untuk pertama kalinya, aku merasa teknologi sedang kalah.”

Keesokan paginya, Raka melanjutkan perjalanan.

Ia mengikuti petunjuk GPS.

Namun baru berjalan sebentar, GPS kembali berkata:

“Dalam dua ratus meter, belok kanan.”

Raka belok kanan.

“Dalam seratus meter, belok kiri.”

Raka belok kiri.

“Dalam lima puluh meter, terus lurus.”

Raka terus lurus.

Tiba-tiba…

“Tujuan Anda telah tiba.”

Raka melihat sekeliling.

Ia berada di tengah kebun labu.

“INI ISTANA?!”

GPS menjawab,

“Berdasarkan koordinat, iya.”

“Ini kebun!”

“Benar.”

“Kenapa kau membawaku ke kebun?”

GPS terdiam beberapa detik.

“Kesalahan sistem.”

Raka langsung melempar GPS ke rumput.

“Teknologi macam apa ini?!”

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di atas pohon.

“Masalahnya bukan GPS.”

Raka menoleh.

“Lalu apa?”

“Kamu terlalu percaya pada alat.”

Raka mengerutkan dahi.

“Maksudmu?”

“GPS hanya tahu peta. Ia tidak tahu jembatan yang sudah roboh, jalan yang ditutup, atau jalan yang sebenarnya lebih aman.”

Raka mengambil kembali GPS-nya.

“Jadi selama ini aku yang salah?”

“Bukan sepenuhnya.”

“Lalu?”

“GPS-nya juga sedikit bodoh.”

GPS langsung berbunyi.

“Saya mendengar itu.”

Burung gagak tertawa.

Raka pun ikut tertawa.

Akhirnya Raka memutuskan tidak hanya menggunakan GPS.

Ia bertanya kepada warga.

Ia memperhatikan tanda-tanda alam.

Ia melihat arah matahari.

Ia mengingat bentuk bukit.

Dan yang paling penting, ia mulai menggunakan pikirannya sendiri.

Perjalanan menjadi jauh lebih mudah.

Sampai akhirnya, setelah berhari-hari berjalan, Raka melihat sesuatu yang sangat ia kenal.

Menara istana.

“Akhirnya!”

Raka melompat kegirangan.

Namun belum sempat ia berlari, GPS berbunyi.

“Belok kiri.”

Raka berhenti.

Ia melihat GPS.

Kemudian melihat istana.

Kemudian melihat GPS lagi.

“Tidak.”

Baca Juga :  Kerajaan Mesin yang Lupa Tertawa

GPS berbunyi.

“Belok kiri.”

“Tidak.”

“Belok kiri.”

“Aku sudah melihat istananya!”

“Data peta menunjukkan—”

“DIAM!”

GPS mendadak diam.

Raka tertawa.

“Aku pulang dengan caraku sendiri.”

Ia berlari menuju istana.

Sesampainya di gerbang, para penjaga langsung terkejut.

Seekor kodok melompat-lompat di depan mereka.

“Siapa kamu?”

Raka menjawab,

“Aku Pangeran Raka!”

Penjaga saling pandang.

“Pangeran Raka?”

“Benar.”

“Buktikan!”

Raka berpikir.

Ia menunjukkan GPS.

“Aku punya ini.”

Penjaga menggeleng.

“Bukan bukti.”

Raka lalu menyebut nama kuda kesayangannya, nama koki kerajaan, tempat rahasia di taman istana, bahkan kebiasaan ayahnya yang selalu menyembunyikan kue di balik lemari.

Para penjaga akhirnya yakin.

“Pangeran!”

Raja dan Ratu segera keluar.

Begitu melihat anaknya yang berubah menjadi kodok, Ratu langsung menangis.

“Anakku!”

Raka melompat ke pelukan ibunya.

“Akhirnya pulang juga.”

Raja memandang GPS yang dibawa Raka.

“Benda apa itu?”

“GPS Ajaib.”

“Apakah benda itu membantumu pulang?”

Raka berpikir.

“Kadang-kadang.”

Raja mengangguk.

“Berarti sangat berguna.”

Raka tersenyum.

“Tidak selalu.”

Tiba-tiba GPS berbunyi.

“Tujuan telah tercapai.”

Semua orang bersorak.

Namun kemudian GPS kembali berbunyi.

“Untuk menuju ruang makan, belok kanan.”

Raka menatapnya.

“Ruang makan ada di sebelah kiri.”

GPS menjawab,

“Rute alternatif ditemukan.”

Raka menghela napas.

“Jangan-jangan nanti kita malah sampai ke kebun labu lagi.”

Semua orang tertawa.

Beberapa hari kemudian, penyihir yang mengutuk Raka datang ke istana.

“Apakah kau sudah belajar sesuatu?” tanya penyihir.

Raka mengangguk.

“Aku belajar bahwa jangan mengejek sepatu orang.”

“Bagus.”

“Dan jangan terlalu percaya GPS.”

Penyihir mengangguk.

“Lebih bagus.”

“Dan jangan menganggap teknologi selalu benar.”

Penyihir tersenyum.

“Sekarang kau sudah siap menjadi manusia kembali.”

Tongkat sihir diangkat.

Cahaya berputar mengelilingi Raka.

Dalam sekejap…

Puff!

Raka kembali menjadi manusia.

Semua orang bersorak.

Namun Raka justru melihat GPS di tangannya.

“Benda ini mau diapakan?”

Penyihir menjawab,

“Simpan.”

“Untuk apa?”

“Supaya kau tidak tersesat lagi.”

Raka tertawa.

“Setelah pengalaman ini, saya lebih percaya bertanya kepada orang daripada bertanya kepada GPS.”

Penyihir mengangguk.

“Itulah pelajarannya.”

Sejak hari itu, Pangeran Raka menjadi pangeran yang terkenal bukan karena kekayaannya, bukan karena istananya, dan bukan pula karena pernah menjadi kodok.

Ia terkenal karena selalu mengingat satu nasihat:

Teknologi boleh menunjukkan arah, tetapi keputusan tetap harus menggunakan akal dan hati.

Sedangkan GPS Ajaib?

Benda itu tetap digunakan di kerajaan.

Tetapi ada satu aturan baru yang dibuat khusus oleh Pangeran Raka:

Kalau GPS menyuruh menuju kebun labu, jangan ikuti.

TAMAT.