Menjadi Muslim yang Bijak di Era Digital: Antara Dakwah, Hoaks, dan Media Sosial

Seorang Muslim menggunakan media sosial dengan bijak sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an. Foto: Madi/ AI

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menyampaikan pendapat. Bagi umat Islam, media sosial bukan hanya tempat untuk berinteraksi, tetapi juga dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan menyebarkan kebaikan.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Hoaks, fitnah, ujaran kebencian, potongan video tanpa konteks, hingga informasi keagamaan yang tidak jelas sumbernya dapat menyebar dalam hitungan detik. Karena itu, seorang Muslim perlu memiliki sikap bijak agar teknologi menjadi sarana memperoleh pahala, bukan justru menjadi sumber dosa.

Islam Mengajarkan Tabayyun

Salah satu prinsip penting dalam menghadapi informasi adalah tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

Baca Juga :  Loka Karya Literasi Digital, Ini Pesan Wakil Rektor IAI Tebo Andi Susanto

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”

Prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan digital. Tidak semua informasi yang muncul di media sosial benar, meskipun dikemas dengan judul yang menarik, menggunakan gambar yang meyakinkan, atau dibagikan oleh banyak orang.

Majelis Ulama Indonesia juga menekankan pentingnya tabayyun sebelum menyebarkan informasi. Dalam pedoman bermedia sosial, informasi yang diterima dianjurkan untuk diverifikasi terlebih dahulu dan dipastikan kemanfaatannya.

Dakwah di Media Sosial: Peluang Sekaligus Amanah

Media sosial memberikan peluang besar bagi umat Islam untuk berdakwah. Sebuah tulisan, video pendek, infografis, atau pesan inspiratif dapat menjangkau banyak orang tanpa dibatasi jarak dan waktu.

Baca Juga :  Tradisi Ramadhan di Berbagai Negara Muslim

Dakwah digital dapat dimulai dari hal sederhana: membagikan ayat Al-Qur’an dengan sumber yang jelas, menyampaikan hadis secara tepat, mengingatkan tentang kebaikan, atau membuat konten edukatif yang bermanfaat.

Akan tetapi, dakwah juga membutuhkan ilmu dan tanggung jawab. Jangan sampai keinginan mendapatkan banyak penonton membuat seseorang mengabaikan ketepatan informasi. Konten agama yang terlalu singkat juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman jika persoalan yang dibahas sebenarnya membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap. Fenomena belajar agama hanya melalui video pendek di media sosial juga menjadi perhatian MUI pada 2026.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya bertanya, “Apakah konten ini menarik?”, tetapi juga “Apakah konten ini benar, bermanfaat, dan pantas disampaikan?”