Menjadi Muslim yang Bijak di Era Digital: Antara Dakwah, Hoaks, dan Media Sosial

Seorang Muslim menggunakan media sosial dengan bijak sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an. Foto: Madi/ AI

Bijak Menghadapi Era AI

Tantangan dunia digital semakin besar dengan perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Foto, suara, dan video dapat dibuat atau dimanipulasi sehingga terlihat sangat meyakinkan.

Kondisi ini membuat prinsip tabayyun semakin penting. MUI pada 2025 juga mengingatkan bahwa di era AI, informasi dan gambar dapat dibuat seolah-olah asli sehingga masyarakat perlu melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau membagikannya.

Karena itu, kemampuan digital perlu berjalan bersama dengan akhlak. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kehati-hatian manusia tetap menjadi kunci.

Menjadikan Media Sosial sebagai Ladang Kebaikan

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat digunakan untuk menyebarkan ilmu atau kebodohan, persaudaraan atau permusuhan, kebaikan atau keburukan.

Baca Juga :  Media Sosial Boleh Ramai, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Kepedulian di Dunia Nyata

Seorang Muslim tidak harus menjauhi teknologi untuk menjaga agamanya. Yang lebih penting adalah menggunakan teknologi dengan kesadaran bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki konsekuensi.

Setiap unggahan, komentar, dan pesan yang kita sebarkan sebaiknya menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai mengejar popularitas membuat kita lupa bahwa kejujuran dan kehormatan manusia jauh lebih berharga daripada jumlah tayangan.

Menjadi Muslim yang bijak di era digital berarti mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan prinsip agama dan akhlak. Media sosial dapat menjadi ruang dakwah yang luas, tetapi juga dapat menjadi tempat berkembangnya hoaks dan fitnah jika digunakan tanpa tanggung jawab.

Baca Juga :  Korem 042/Gapu Peringati Tahun Baru Islam 1444 Hijriah

Karena itu, tabayyun, kejujuran, ilmu, kesantunan, dan kemanfaatan harus menjadi pedoman dalam bermedia sosial.

Sebelum membagikan sebuah informasi, mari biasakan bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah cara menyampaikannya baik?

Jika jawabannya belum jelas, menahan diri untuk tidak membagikan mungkin justru merupakan bentuk kebijaksanaan.

Di era ketika informasi dapat menyebar hanya dengan satu sentuhan, menjaga jari agar tidak menyebarkan keburukan adalah bagian dari menjaga akhlak seorang Muslim.