Hasad Bisa Membakar Amal Ibadah, Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiah tentang cara menghindari sifat hasad dalam video berjudul "Usaha yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menghindari Sifat Hasad" yang tayang di kanal YouTube Kata Ustadz. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Ustadz Abdul Somad (UAS) membagikan tiga langkah yang dapat dilakukan umat Islam untuk menghindari sifat hasad atau dengki. Pesan tersebut disampaikan dalam ceramah bertajuk “Usaha yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menghindari Sifat Hasad” yang tayang di kanal YouTube Kata Ustadz.

Dalam ceramahnya, UAS menjelaskan bahwa hasad tidak hanya berkaitan dengan akhlak, tetapi juga menyangkut persoalan tauhid. Menurutnya, seseorang yang merasa iri atas nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain sejatinya sedang menunjukkan ketidakridhaan terhadap keputusan Allah SWT.

UAS memberikan contoh sederhana yang mungkin pernah dialami banyak orang. Ia mengaku pernah melihat tayangan ceramah seorang ustaz di televisi yang dihadiri banyak jamaah. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, bisa saja muncul rasa iri di dalam hati.

“Orang akan mengatakan akhlaknya bermasalah. Padahal kalau kita teliti lebih dalam, kaitannya bukan hanya akhlak, tetapi tauhid. Karena saat saya tidak senang dengan seorang kiai, berarti saya tidak senang dengan Allah yang memberikan nikmat kepada kiai tersebut,” ujar UAS.

Karena itu, langkah pertama untuk menghindari hasad adalah menanamkan keyakinan bahwa setiap nikmat, rezeki, kedudukan, dan keberhasilan seseorang merupakan ketetapan Allah SWT. Seorang muslim harus belajar menerima dan ridha atas setiap keputusan-Nya.

Baca Juga :  Perintah untuk Berbuat Adil dalam Kehidupan

“Kalau saya hasad, berarti saya tidak rida kepada keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa kita sampai menggugat keputusan Allah?” katanya.

Meski demikian, UAS menegaskan bahwa Islam tetap mengajarkan untuk membenci kemaksiatan. Namun, kebencian itu ditujukan kepada perbuatannya, bukan kepada pelakunya. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW menerima Abu Sufyan setelah memeluk Islam.

Selain itu, UAS mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal ibadah yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang mengibaratkan hasad seperti api yang melahap kayu bakar hingga habis.

Menurutnya, ibadah seperti salat tahajud, puasa, menjaga lisan, dan berbagai amal saleh lainnya membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Namun seluruh pahala itu dapat lenyap apabila seseorang memelihara penyakit hati berupa hasad.

“Bangun tahajud itu sulit, puasa itu sulit, menjaga lisan itu sulit. Tiba-tiba semuanya hilang hanya karena hasad,” ungkapnya.

Langkah kedua yang disampaikan UAS adalah menjadikan setiap nasihat dalam Al-Qur’an sebagai bahan introspeksi diri, bukan untuk menghakimi orang lain. Ia mengibaratkan orang yang belajar agama seperti seseorang yang baru memperoleh meteran.

Baca Juga :  Keistimewaan Bulan Ramadan dan Amalan yang Dianjurkan

“Jangan gunakan meteran itu untuk mengukur orang lain. Yang harus diukur adalah diri sendiri. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang hasad, dengki, atau mengungkit-ungkit amal, maka arahkan nasihat itu kepada diri kita sendiri,” tuturnya.

Selanjutnya, UAS mengajak umat Islam agar tidak pernah bosan berdoa kepada Allah SWT. Menurutnya, doa merupakan senjata orang beriman untuk memohon agar hati selalu dijaga dari sifat iri, dengki, dendam, dan penyakit hati lainnya.

Ia pun mengingatkan doa agar Allah meneguhkan hati dalam agama dan ketaatan.

“Ya Musharrifal Qulub, sharrif qalbi ‘ala dinik wa ‘ala ta’atik.”

“Kalau kita yakin Allah akan menolong kita menjaga hati, insyaallah Allah akan menjaga kita dari penyakit hasad,” ujar UAS.

Melalui tausiah tersebut, UAS mengajak umat Islam untuk terus membersihkan hati, memperbanyak introspeksi diri, serta ridha terhadap setiap ketentuan Allah SWT. Sebab, hati yang bersih akan menjaga amal ibadah tetap bernilai di sisi-Nya sekaligus menghadirkan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari. (Sum)