SIDAKPOST.ID, BUNGO – Musim kemarau menjadi salah satu tantangan bagi pekebun kelapa sawit, terutama pada tanaman belum menghasilkan (TBM). Pada fase ini, tanaman masih aktif membangun sistem perakaran dan pertumbuhan vegetatif sehingga ketersediaan air perlu diperhatikan. TBM kelapa sawit umumnya mencakup tanaman pada umur sekitar 0–36 bulan. Tujuan pemeliharaannya adalah memperoleh pertumbuhan yang seragam dan optimal sebagai bekal memasuki masa produksi.
Kementerian Pertanian juga menempatkan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas yang rentan terdampak kekeringan. Karena itu, mitigasi melalui budidaya adaptif, konservasi sumber daya alam, dan penguatan pengelolaan kebun menjadi semakin penting di tengah perubahan pola cuaca.
1. Jaga kelembapan tanah di sekitar tanaman
Salah satu langkah penting menghadapi kemarau adalah mempertahankan kelembapan tanah di sekitar perakaran sawit. Pekebun dapat memanfaatkan bahan organik sebagai penutup permukaan tanah atau mulsa.
Bahan organik membantu mengurangi penguapan air dari permukaan tanah. Pada lahan yang sesuai, bahan organik seperti tandan kosong kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan tanah. Kajian Kementerian Pertanian mengenai pemeliharaan sawit di lahan kering menekankan pentingnya bahan organik dalam mendukung kondisi tanah dan pemeliharaan tanaman.
2. Pastikan air tersedia ketika tanaman membutuhkannya
Pada kondisi kemarau panjang, tanaman muda perlu mendapat perhatian lebih terhadap ketersediaan air. Jika kebun memiliki sumber air dan fasilitas penyiraman, air dapat diberikan secara terukur terutama pada tanaman yang menunjukkan gejala kekurangan air.
Penyiraman sebaiknya diarahkan ke area perakaran, bukan sekadar membasahi permukaan tanah. Frekuensi dan volume air perlu disesuaikan dengan jenis tanah, umur tanaman, kondisi cuaca, serta ketersediaan air di kebun.








