Musim Kemarau Tiba, Begini Trik Merawat Sawit TBM agar Tidak Stres Kekeringan

Tanaman kelapa sawit TBM tumbuh di lahan kering pada musim kemarau dengan penggunaan mulsa dan irigasi untuk membantu menjaga kelembapan tanah. Foto: Madi/ AI

3. Jangan biarkan gulma mengambil air dan hara

Gulma yang tumbuh berlebihan di sekitar tanaman dapat menjadi pesaing dalam memperoleh air dan unsur hara. Karena itu, pengendalian gulma tetap perlu dilakukan selama musim kemarau.

Namun, pengendalian sebaiknya dilakukan secara tepat. Area piringan perlu dijaga agar tidak terlalu banyak gulma, sementara penutup tanah yang bermanfaat dapat dipertahankan sesuai sistem pengelolaan kebun.

Pedoman pemeliharaan TBM dari Kementerian Pertanian mencantumkan pembersihan gulma dan perawatan piringan sebagai bagian penting dalam pemeliharaan tanaman muda.

Baca Juga :  Kebun Kelapa Sawit Ditanami Pisang: Sinergi Pertanian yang Menguntungkan

4. Berikan pupuk secara tepat, jangan asal menambah dosis

Pemupukan tetap diperlukan untuk menunjang pertumbuhan TBM, tetapi musim kemarau bukan berarti dosis pupuk harus ditambah sembarangan.

Pemupukan sebaiknya mengikuti rekomendasi berdasarkan umur tanaman, kondisi tanah, dan kebutuhan unsur hara. Pada kondisi tanah sangat kering, pekebun juga perlu memperhatikan ketersediaan air agar pupuk dapat dimanfaatkan tanaman secara efektif.

Rekomendasi budidaya kelapa sawit dari Kementerian Pertanian membedakan pengelolaan TBM berdasarkan umur tanaman, termasuk TBM-1, TBM-2, dan TBM-3.

5. Perhatikan tanda-tanda tanaman mulai mengalami stres

Tanaman sawit yang mengalami kekurangan air dapat menunjukkan perubahan pada kondisi daun dan pertumbuhannya. Karena itu, kebun perlu dipantau secara rutin, terutama pada tanaman yang masih muda.

Baca Juga :  Merawat Kelapa Sawit yang Baru Ditanam: Langkah-Langkah Penting

Pekebun dapat melakukan pemeriksaan terhadap kondisi daun, pertumbuhan tanaman, kelembapan tanah, serta tanaman yang pertumbuhannya terlihat tertinggal dibandingkan tanaman di sekitarnya.

Pemantauan juga penting untuk mendeteksi lebih awal serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), karena kondisi cuaca ekstrem dan perubahan iklim dapat meningkatkan berbagai risiko pada perkebunan.