Ia menilai kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah pemberitaan. Berita yang cepat tetapi tidak akurat justru dapat menimbulkan persoalan. Sebaliknya, berita yang disusun berdasarkan fakta, melalui proses verifikasi dan konfirmasi, akan lebih bernilai bagi masyarakat.
Kesalahan dalam pemberitaan bukan persoalan kecil. Satu informasi yang keliru dapat berdampak pada nama baik seseorang, lembaga maupun kelompok. Karena itu, wartawan harus mampu membedakan fakta, pendapat dan asumsi.
Di lapangan, jurnalis juga kerap berhadapan dengan berbagai kepentingan. Ada narasumber yang mudah ditemui, ada pula yang sulit memberikan keterangan. Dalam situasi seperti itu, profesionalisme dan independensi wartawan menjadi sangat penting.
Zakaria juga menilai pers memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang kepada masyarakat. Suara warga yang selama ini tidak terdengar dapat menjadi bagian penting dalam pemberitaan, terutama ketika persoalan tersebut berkaitan dengan kepentingan publik.
Namun, keberanian mengangkat sebuah persoalan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Jurnalis bukan hakim yang menentukan benar atau salah. Tugasnya adalah mencari, menguji dan menyajikan fakta dengan tetap memberikan ruang bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk memberikan keterangan.
“Jurnalis itu harus berani, tetapi keberanian juga harus dibarengi pengetahuan dan tanggung jawab. Jangan sampai karena ingin cepat atau ingin berita terlihat menarik, kita mengabaikan etika,” kata ketua JOIN Provinsi Jambi, sekaligus pemilik media siber sidakpost.id.
Pada akhirnya, menjadi jurnalis bukan tentang siapa yang paling cepat menulis atau paling banyak menghasilkan berita. Profesi ini lebih jauh berbicara tentang kepercayaan, bagaimana informasi yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.









