Ahli psikologi, seperti Paul Ekman, menjelaskan bahwa ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan konteks dapat mencerminkan masalah emosional.
Ketika seseorang tersenyum atau cengengesan saat situasi mendesak, hal ini bisa mengindikasikan bahwa mereka merasa tertekan atau bahkan cemas. Dengan kata lain, cengengesan bisa menjadi mekanisme koping untuk meredakan ketegangan, meskipun ekspresi tersebut tidak selalu diterima dengan baik oleh orang lain.
Terdapat beberapa penelitian dan pandangan para ahli yang mengaitkan sikap cengengesan dengan ketidakstabilan emosional. Meskipun tidak ada istilah khusus “cengengesan” dalam literatur psikologi, perilaku ini dapat dianalisis dalam konteks ekspresi wajah dan komunikasi non-verbal.
1. Ekspresi Wajah dan Emosi: Menurut Paul Ekman, seorang psikolog terkenal dalam studi emosi dan ekspresi wajah, ekspresi yang tidak sesuai dengan konteks dapat menunjukkan ketidakstabilan emosional. Jika seseorang tersenyum atau cengengesan saat situasi serius, hal ini dapat menandakan kebingungan, kecemasan, atau ketidaknyamanan dalam menghadapi situasi tersebut. Ekspresi yang tidak konsisten dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan dari orang lain.
2. Keterhubungan Emosi dan Perilaku: Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa ketidakstabilan emosional dapat mempengaruhi cara seseorang berperilaku dalam situasi sosial. Orang yang mengalami ketidakstabilan emosional sering kali menunjukkan perilaku yang tidak terduga atau tidak sesuai, seperti tertawa atau cengengesan di saat-saat yang tidak tepat. Hal ini bisa menimbulkan persepsi negatif terhadap kepribadian dan kemampuan individu tersebut.






