3. Membuat Catatan dengan Bahasa Sendiri
Anak tidak harus menyalin seluruh isi buku ke dalam buku catatan. Lebih baik, mereka dilatih mengambil inti materi kemudian menuliskannya menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Misalnya, setelah membaca satu bab pelajaran, anak menuliskan tiga sampai lima poin penting.
Cara ini dapat membuat anak lebih aktif mengolah informasi daripada hanya membaca berulang-ulang.
4. Berani Bertanya Ketika Tidak Memahami Materi
Salah satu kebiasaan penting dalam belajar adalah tidak malu bertanya.
Ketika ada materi yang belum dipahami, anak dapat bertanya kepada guru, orang tua atau teman yang lebih menguasai pelajaran tersebut.
Anak juga dapat membuat daftar pertanyaan ketika belajar di rumah untuk kemudian ditanyakan kepada guru pada kesempatan berikutnya.
Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berorientasi pada menghafal, tetapi juga memahami.
5. Mengurangi Gangguan Saat Belajar
Telepon seluler, media sosial, video dan permainan dapat menjadi gangguan ketika anak sedang belajar.
Karena itu, orang tua dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih tenang dengan membatasi penggunaan gawai selama waktu belajar.
Kemendikdasmen juga mendorong penggunaan gawai secara bijak, termasuk dengan membatasi waktu penggunaan dan memberikan jeda dari layar.
Bukan berarti anak harus sepenuhnya dijauhkan dari teknologi. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencari informasi dan sumber belajar selama penggunaannya terarah.
6. Membiasakan Istirahat yang Cukup
Belajar membutuhkan kondisi tubuh dan pikiran yang siap. Karena itu, waktu istirahat tidak boleh diabaikan.
Anak yang kurang tidur atau terlalu lelah dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar.
Kebiasaan tidur yang cukup menjadi bagian dari pembiasaan positif yang juga ditekankan dalam Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Dengan istirahat yang cukup, anak memiliki kesempatan untuk memulihkan energi sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar.








