d. Kerinci: Sumber Budaya Melayu Tua
Wilayah Kerinci di barat Jambi dikenal sebagai pusat peradaban Melayu Tua. Penelitian Voorhoeve (1970: 369–399) dan Stutterheim (1956: 45) menyebutkan bahwa tradisi tulisan, bahasa, dan struktur sosial Melayu berakar dari masyarakat pegunungan Kerinci.
Bukti arkeologis seperti batu silindrik, menhir, dan dolmen menunjukkan tradisi pemujaan leluhur yang berkembang sejak 3.000 SM.
Lembah Kerinci juga menghasilkan temuan artefak logam dan gerabah yang menunjukkan peralihan budaya dari batu ke logam. Menurut Bellwood (1985: 218), masyarakat prasejarah di wilayah ini merupakan bagian dari migrasi awal Austronesia dari utara yang membawa teknologi perunggu dan sistem agrikultur.
e. Kontinuitas Menuju Masa Sejarah Awal
Meskipun fokus kajian ini adalah masa pra-Masehi, penting dicatat bahwa kesinambungan budaya di Jambi berlanjut hingga masa klasik. Situs Percandian Muaro Jambi, yang berkembang sejak abad ke-7–9 sampai abad ke-13 M (Tarling, 1992: 53), berdiri di tepi Sungai Batang Hari, lokasi yang sama dengan jalur pemukiman pra-Masehi.
Temuan artefak emas, bata merah, dan keramik Asia Timur di situs ini memperlihatkan evolusi panjang peradaban Jambi dari masyarakat gua dan megalitik menjadi pusat spiritual dan ekonomi internasional di bawah pengaruh Sriwijaya.
Artinya, akar sejarah tersebut telah tertanam jauh sebelum abad pertama Masehi.
3. Simpul
Bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Provinsi Jambi menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni manusia sejak ribuan tahun sebelum Masehi.
Temuan lukisan cadas Bukit Bulan (±4600 SM), batu silindrik Merangin (±10.000 SM), artefak logam Kerinci (±3000 SM), serta temuan di sepanjang Sungai Batang Hari membuktikan adanya kehidupan prasejarah yang berkesinambungan.
Kawasan ini menjadi salah satu jalur penting migrasi manusia prasejarah di Asia Tenggara, terutama dalam konteks penyebaran budaya Austronesia.
Selain memperkaya sejarah lokal Jambi, temuan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat perkembangan manusia dan kebudayaan awal di Asia Tenggara.
Perlu dukungan penelitian lanjutan, dokumentasi radiokarbon, dan konservasi geopark. Situs-situs prasejarah Jambi berpotensi menjadi warisan dunia yang menjelaskan perjalanan panjang peradaban Nusantara dan dunia.






