B. Sejarah Arkeologis Jambi Menurut Arkeolog dan Referensi Global
1. Bukti Arkeologis Pra-Masehi dan Proto-Sejarah
Kajian arkeologis modern di Jambi telah meluas hingga periode Pra-Masehi. Ekskavasi di kawasan dataran tinggi, seperti Kerinci, telah menemukan bukti pemukiman yang menunjukkan aktivitas manusia sejak era Paleometalik (sekitar 500 SM) (Wiradnyana & Hakim, 2011, hlm. 12). Temuan artefak perunggu dari masa kebudayaan Dong Son membuktikan bahwa Jambi adalah titik awal peradaban prasejarah di Sumatera yang berkembang secara mandiri.
2. Perspektif Historis Global: Cina, Belanda, dan Arab
Keterangan tertulis paling awal mengenai Melayu Kuno (Mo-lo-yeu/Kao-Ying) ditemukan dalam catatan Dinasti Tang (Tiongkok). Peziarah Budha I-Tsing pada tahun 671 M singgah di tanah Melayu, menegaskan reputasi Jambi sebagai pusat studi Budha (Wang Gungwu, 1958, hlm. 301).
Penelitian awal Belanda mencatat Muara Jambi sebagai kompleks percandian dan situs yang luar biasa luas, lebih luas dari areal yang ada di Nusantara dan bahkan di Asia (uitgestrekt) (Krom, 1923, hlm. 78).
Sementara itu, literatur dari Timur Tengah (pedagang Arab, seperti Sulaiman), melalui karya Kitab al-Masalik wa’l-Mamalik, mencatat adanya komoditas berharga dari wilayah kepulauan ini (Al-Bakri, 1067, hlm. 89).
C. Sejarah Kerajaan Nusantara dan Asia yang Berafiliasi dengan Jambi Serta Kontribusinya bagi Melayu Jambi
1. Afiliasi Kerajaan Nusantara
Jambi adalah lokasi utama dari Kerajaan Melayu Kuno (Mo-lo-yeu), dibuktikan oleh Prasasti Karang Berahi (abad ke-7 M). Jambi memiliki kedaulatan yang tercermin dari catatan I-Tsing (Coedes, 1968, hlm. 90).
Afiliasi ini memberikan kontribusi pada Melayu Jambi berupa:
(1) Identitas Linguistik melalui penguatan Bahasa Melayu Kuno; dan
(2) Sistem Pendidikan dari warisan budaya monastik Budha.






