Arkeologis Jambi: Perspektif Historis Kerajaan Nusantara dan Asia serta Kontribusinya terhadap Melayu Jambi

Menyemarakkan Seminar Nasional Adat Melayu Jambi 2025

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

B. Sejarah Arkeologis Jambi Menurut Arkeolog dan Referensi Global

1. Bukti Arkeologis Pra-Masehi dan Proto-Sejarah

Kajian arkeologis modern di Jambi telah meluas hingga periode Pra-Masehi. Ekskavasi di kawasan dataran tinggi, seperti Kerinci, telah menemukan bukti pemukiman yang menunjukkan aktivitas manusia sejak era Paleometalik (sekitar 500 SM) (Wiradnyana & Hakim, 2011, hlm. 12). Temuan artefak perunggu dari masa kebudayaan Dong Son membuktikan bahwa Jambi adalah titik awal peradaban prasejarah di Sumatera yang berkembang secara mandiri.

2. Perspektif Historis Global: Cina, Belanda, dan Arab

Keterangan tertulis paling awal mengenai Melayu Kuno (Mo-lo-yeu/Kao-Ying) ditemukan dalam catatan Dinasti Tang (Tiongkok). Peziarah Budha I-Tsing pada tahun 671 M singgah di tanah Melayu, menegaskan reputasi Jambi sebagai pusat studi Budha (Wang Gungwu, 1958, hlm. 301).

Penelitian awal Belanda mencatat Muara Jambi sebagai kompleks percandian dan situs yang luar biasa luas, lebih luas dari areal yang ada di Nusantara dan bahkan di Asia (uitgestrekt) (Krom, 1923, hlm. 78).

Baca Juga :  Wagub Jambi Abdullah Sani Sambut Kunker Komisi II DPR RI

Sementara itu, literatur dari Timur Tengah (pedagang Arab, seperti Sulaiman), melalui karya Kitab al-Masalik wa’l-Mamalik, mencatat adanya komoditas berharga dari wilayah kepulauan ini (Al-Bakri, 1067, hlm. 89).

Baca Juga :  Lomba Fashion Show Baju Kebaya, Meriahkan Hari Kartini 2022 di Tebo

C. Sejarah Kerajaan Nusantara dan Asia yang Berafiliasi dengan Jambi Serta Kontribusinya bagi Melayu Jambi

1. Afiliasi Kerajaan Nusantara

Jambi adalah lokasi utama dari Kerajaan Melayu Kuno (Mo-lo-yeu), dibuktikan oleh Prasasti Karang Berahi (abad ke-7 M). Jambi memiliki kedaulatan yang tercermin dari catatan I-Tsing (Coedes, 1968, hlm. 90).

Afiliasi ini memberikan kontribusi pada Melayu Jambi berupa:
(1) Identitas Linguistik melalui penguatan Bahasa Melayu Kuno; dan
(2) Sistem Pendidikan dari warisan budaya monastik Budha.