E. Teori Sejarah Budaya dan Peradaban serta Peninggalan Arkeologis sebagai Monumen Empiris: Kasus Jambi
Peradaban Jambi dianalisis melalui Teori Port-Polity. Peninggalan arkeologis di Jambi berfungsi sebagai Monumen Empiris.
1. Monumen Empiris dan Difusi Budaya
Peninggalan candi bata di Muara Jambi menunjukkan difusi ajaran Budha dari India yang telah diadaptasi secara lokal (Miksic, 2013, hlm. 99).
Ditemukannya ribuan fragmen keramik Tiongkok adalah bukti kontak multi-arah yang memperkaya budaya material masyarakat Jambi.
2. Perbandingan Arkeologis: Jambi Lebih Tua dan Unik
Candi Muara Jambi menunjukkan potensi usia yang lebih tua dibandingkan dengan situs besar di Jawa.
Sebagian besar struktur di Muara Jambi menggunakan bata merah dengan penanggalan Karbon-14 menunjukkan aktivitas sejak abad ke-7 Masehi (Purwanto, 2015, hlm. 195).
Kaitan dengan Asia: Muara Jambi dan Nalanda, India, berbagi kesamaan fungsi sebagai universitas monastik. Muara Jambi menjadi saksi empiris keberlanjutan tradisi Budha (De Casparis, 1986, hlm. 45).
F. Agama Besar Dunia: Kaitannya dengan Kerajaan Nusantara, Asia dan Jambi
1. Budha: Jambi sebagai Pusat Wacana Asia
Jambi berfungsi sebagai pusat Budha Vajrayana dan Mahayana yang memiliki reputasi internasional (De Casparis, 1986, hlm. 45).
Penemuan meterai tanah liat (votive tablets) dengan mantra Budha menjadi bukti empiris dari aktivitas keilmuan yang masif.
2. Islam: Klaim Abad ke-1 Hijriah dan Pelembagaan
Terdapat diskursus akademik mengenai klaim Islamisasi Jambi sejak Abad ke-1 Hijriah (sekitar 622–718 Masehi), yang menyatakan Islam “langsung dari Mekah” (la gaung dari Makkah).
Klaim ini didasarkan pada tradisi lisan serta historiografi seperti yang dikemukakan oleh Hamka (1959, hlm. 35).
Klaim tersebut relevan dengan konteks perluasan politik dan perdagangan Arab yang masif pada era tersebut (Hitti, 1970, hlm. 125).
Pelembagaan Islam secara politik kemudian dikuatkan melalui Kesultanan Jambi (abad ke-17 M), menghasilkan perpaduan Adat-Syarak yang unik.






