Arkeologis Jambi: Perspektif Historis Kerajaan Nusantara dan Asia serta Kontribusinya terhadap Melayu Jambi

Menyemarakkan Seminar Nasional Adat Melayu Jambi 2025

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

E. Teori Sejarah Budaya dan Peradaban serta Peninggalan Arkeologis sebagai Monumen Empiris: Kasus Jambi

Peradaban Jambi dianalisis melalui Teori Port-Polity. Peninggalan arkeologis di Jambi berfungsi sebagai Monumen Empiris.

1. Monumen Empiris dan Difusi Budaya

Peninggalan candi bata di Muara Jambi menunjukkan difusi ajaran Budha dari India yang telah diadaptasi secara lokal (Miksic, 2013, hlm. 99).
Ditemukannya ribuan fragmen keramik Tiongkok adalah bukti kontak multi-arah yang memperkaya budaya material masyarakat Jambi.

2. Perbandingan Arkeologis: Jambi Lebih Tua dan Unik

Candi Muara Jambi menunjukkan potensi usia yang lebih tua dibandingkan dengan situs besar di Jawa.
Sebagian besar struktur di Muara Jambi menggunakan bata merah dengan penanggalan Karbon-14 menunjukkan aktivitas sejak abad ke-7 Masehi (Purwanto, 2015, hlm. 195).

Baca Juga :  Air Mata Haru Warnai Moment Al Haris Pulang Kampung

Kaitan dengan Asia: Muara Jambi dan Nalanda, India, berbagi kesamaan fungsi sebagai universitas monastik. Muara Jambi menjadi saksi empiris keberlanjutan tradisi Budha (De Casparis, 1986, hlm. 45).

F. Agama Besar Dunia: Kaitannya dengan Kerajaan Nusantara, Asia dan Jambi

1. Budha: Jambi sebagai Pusat Wacana Asia

Jambi berfungsi sebagai pusat Budha Vajrayana dan Mahayana yang memiliki reputasi internasional (De Casparis, 1986, hlm. 45).
Penemuan meterai tanah liat (votive tablets) dengan mantra Budha menjadi bukti empiris dari aktivitas keilmuan yang masif.

Baca Juga :  Demokrat Berbagi Ratusan Paket Sembako dan Amplop di Dua Dusun di Bungo

2. Islam: Klaim Abad ke-1 Hijriah dan Pelembagaan

Terdapat diskursus akademik mengenai klaim Islamisasi Jambi sejak Abad ke-1 Hijriah (sekitar 622–718 Masehi), yang menyatakan Islam “langsung dari Mekah” (la gaung dari Makkah).

Klaim ini didasarkan pada tradisi lisan serta historiografi seperti yang dikemukakan oleh Hamka (1959, hlm. 35).
Klaim tersebut relevan dengan konteks perluasan politik dan perdagangan Arab yang masif pada era tersebut (Hitti, 1970, hlm. 125).
Pelembagaan Islam secara politik kemudian dikuatkan melalui Kesultanan Jambi (abad ke-17 M), menghasilkan perpaduan Adat-Syarak yang unik.