Arkeologis Jambi: Perspektif Historis Kerajaan Nusantara dan Asia serta Kontribusinya terhadap Melayu Jambi

Menyemarakkan Seminar Nasional Adat Melayu Jambi 2025

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

b. Situs Gua Bukit Bulan: Seni Cadas Pra-Masehi

Penemuan lukisan cadas (rock art) di Bukit Bulan, Kabupaten Sarolangun, merupakan bukti arkeologis paling penting untuk masa pra-Masehi di Jambi. Lukisan ini menggambarkan figur manusia, hewan, dan motif geometris pada dinding gua karst.

Berdasarkan analisis Balai Arkeologi Medan dan laporan National Geographic Indonesia (2023), umur lukisan ini diperkirakan 6.600–1.700 tahun lalu atau sekitar 4600 SM–300 M.
Selain lukisan, ditemukan pula fragmen tembikar dan alat litik (serpih bilah) yang menunjukkan pola hidup menetap dan aktivitas domestik. Peneliti Universitas Jambi (UNJA, 2022) menilai bahwa seni cadas tersebut berkaitan dengan migrasi awal rumpun Austronesia yang membawa kebudayaan neolitik ke Jambi.

c. Situs Sungai Batang Hari: Jalur Kehidupan Prasejarah

Sungai Batang Hari merupakan urat nadi peradaban Jambi sejak masa prasejarah. Temuan arkeologis di sepanjang alur sungai memperlihatkan bahwa daerah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia jauh sebelum berdirinya kerajaan Melayu.

Baca Juga :  Bupati Tanjab Barat Buka Pelatihan Tenaga Terampil Jasa Kontruksi

Di Koto Kandis (Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur) ditemukan arca perunggu Dewi Sri setinggi 32 cm, manik-manik, fragmen keramik dan emas (Schnitger, 1937: 72).
Walau arca ini berasal dari masa sejarah awal, lokasi temuan menunjukkan kesinambungan budaya antara pemukiman prasejarah dan masyarakat klasik.

Baca Juga :  Bupati Tebo Resmi Lantik 30 Kades : Segera Bergerak Atur Program Kerja

Selain itu, penelitian BPCB Jambi (2022) menemukan bangkai perahu kuno di Situs Ujung Plancu, yang mengindikasikan kegiatan pelayaran dan perdagangan di sungai ini sejak ribuan tahun lalu (Berkala Arkeologi, 2021: 51).
Dengan demikian, Sungai Batang Hari bukan hanya jalur air tetapi juga koridor budaya yang menghubungkan komunitas pedalaman dan pesisir sejak masa pra-Masehi.