Arkeologis Jambi: Perspektif Historis Kerajaan Nusantara dan Asia serta Kontribusinya terhadap Melayu Jambi

Menyemarakkan Seminar Nasional Adat Melayu Jambi 2025

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

2. Hubungan dengan Asia dan Kontribusinya

Hubungan dengan Tiongkok (diplomasi dan perdagangan) serta India (melalui agama Budha Mahayana dan aksara Pallawa) membentuk fondasi spiritual yang membentuk masyarakat kosmopolitan.

D. Bukti Sejarah Arkeologis Jambi Pra-Masehi

1. Pendahuluan

Provinsi Jambi yang terletak di bagian tengah Pulau Sumatra memiliki posisi geografis strategis, yakni di sepanjang aliran Sungai Batang Hari yang mengalir dari hulu di wilayah Kerinci hingga bermuara di pesisir timur Sumatra. Posisi ini menjadikan Jambi sebagai kawasan penting dalam lintasan migrasi manusia sejak masa prasejarah.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa daerah ini telah dihuni manusia jauh sebelum Masehi, bahkan sejak akhir zaman Pleistosen sekitar 10.000 tahun lalu (Kebudayaan Kemdikbud, 2018:14).

Baca Juga :  Bupati Masnah dan Forkopimda Ikrar Damai Pilkades Serentak 2022

Beragam peninggalan prasejarah seperti lukisan cadas, alat batu, artefak tembikar, hingga struktur megalitik ditemukan di Merangin, Kerinci, dan sepanjang aliran Sungai Batang Hari. Keseluruhan bukti ini memperlihatkan kesinambungan budaya dari masa pra-Masehi menuju masa sejarah awal kerajaan Melayu dan Sriwijaya.

Kajian ini berupaya mendeskripsikan bukti-bukti arkeologis utama di wilayah Jambi yang menunjukkan aktivitas manusia pra-Masehi, mencakup lokasi temuan, jenis artefak, serta rentang kronologisnya. Pembahasan didasarkan pada hasil penelitian Balai Arkeologi Sumatra Selatan, BPCB Jambi, serta studi ilmiah dari berbagai sumber klasik dan modern.

2. Bukti Sejarah Arkeologis Jambi

a. Geopark Merangin dan Tradisi Megalitik

Kawasan Geopark Merangin di Kabupaten Merangin merupakan salah satu situs geologis dan arkeologis tertua di Indonesia. Berdasarkan data UNESCO (2018), lapisan batuan dan fosil di kawasan ini berumur sekitar 300 juta tahun, sementara bukti aktivitas manusia berupa batu silindrik dan struktur megalitik menunjukkan keberadaan manusia sejak akhir Pleistosen (±10.000 SM).

Baca Juga :  Bupati Adirozal Pimpin Rakor Penanganan Kabut Asap

Batu-batu silindrik di Lembah Masurai, Desa Dusun Tuo, dan Sungai Manau diyakini sebagai bagian dari tradisi megalitik tua yang berfungsi dalam ritus pemujaan nenek moyang (Kebudayaan Kemdikbud, 2018:18).
Benda-benda megalitik ini menjadi bukti bahwa komunitas di Merangin dan Kerinci telah memiliki sistem sosial dan spiritual kompleks sebelum munculnya kerajaan-kerajaan sejarah di Sumatra.