Istiqamah, Ujian Terberat dalam Hidup: Ketika Bertahan di Jalan yang Benar Lebih Sulit dari Memulai

Ilustrasi: Seorang pemuda berdiri di persimpangan jalan, memilih jalur terang menuju istiqamah di tengah godaan dan kesibukan dunia yang digambarkan sebagai ujian terberat dalam mempertahankan kebenaran. Foto: AI

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Banyak orang mampu memulai sesuatu dengan penuh semangat. Namun, tidak semua mampu bertahan hingga akhir. Dalam perspektif Islam, tantangan terbesar bukan sekadar memulai langkah kebaikan, melainkan menjaga konsistensi agar tetap berada di jalan yang benar atau istiqamah. Hal inilah yang disebut sebagai salah satu ujian terberat dalam kehidupan manusia.

Dalam sebuah kajian yang dikisahkan oleh Prof. Quraish Shihab melalui program Shihab dan Shihab, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai hal yang paling berat dalam hidup. Jawaban Nabi ternyata bukan tentang peperangan, penghinaan, atau berbagai cobaan berat yang pernah beliau hadapi, melainkan perintah Allah untuk tetap istiqamah sebagaimana yang diperintahkan.

Perintah tersebut termaktub dalam Surah Hud ayat 112 yang berbunyi “Fastaqim kama umirta” atau “Maka tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau telah diperintahkan.” Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah bukan sekadar ketekunan menjalankan aktivitas tertentu, tetapi kemampuan untuk terus berada pada jalan yang diridhai Allah tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri.

Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, istiqamah berarti terus berjalan dalam satu arah tanpa menyimpang. Karena itu, seseorang dituntut untuk konsisten dalam menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Penjelasan ini menunjukkan bahwa istiqamah bukan hanya soal bertahan, tetapi juga memastikan bahwa arah yang ditempuh tetap benar.

Baca Juga :  Menjaga Iman di Tengah Lingkungan Negatif

Fenomena kehidupan sehari-hari menunjukkan banyak orang memulai perjalanan dengan target besar, seperti menghafal Al-Qur’an, menyelesaikan pendidikan, membangun usaha, atau memperbaiki diri. Namun, ketika kesibukan, kegagalan, dan berbagai hambatan datang, semangat mulai memudar dan tujuan yang telah disusun perlahan ditinggalkan. Banyak cita-cita gagal diraih bukan karena mustahil dicapai, melainkan karena tidak dipertahankan cukup lama.

Pandangan serupa juga disampaikan Imam Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil. Ia menjelaskan bahwa istiqamah berarti tetap teguh di atas agama Allah, mengamalkannya, sekaligus mengajak orang lain untuk menjalankannya. Dengan demikian, istiqamah tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial dalam menjaga arah kehidupan umat.

Menariknya, konsep istiqamah memiliki kemiripan dengan teori psikologi modern yang dikenal sebagai grit. Psikolog Angela Duckworth mendefinisikan grit sebagai ketekunan dan gairah dalam mengejar tujuan jangka panjang. Orang yang memiliki grit mampu bertahan menghadapi kegagalan, tantangan, dan masa-masa sulit tanpa kehilangan arah. Keberhasilan, menurut teori ini, lebih sering ditentukan oleh kemampuan bertahan daripada sekadar bakat.

Baca Juga :  Islam: Bagaimana Jika Orang Merasa Diri Lebih Baik Dari Orang Lain?

Selain ketekunan, istiqamah juga membutuhkan ilmu dan pengendalian diri. Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa seseorang tidak akan mampu berada di jalan tengah jika tidak memahami batas kanan dan kiri. Sementara itu, Angela Duckworth dan James J. Gross dalam kajiannya menjelaskan bahwa pengendalian diri diperlukan untuk mengatur emosi, perhatian, dan perilaku ketika menghadapi godaan atau tekanan.

Karena itu, Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk istiqamah, tetapi juga mengingatkan agar tidak melampaui batas melalui firman-Nya, “Wa la tathghau” atau “Janganlah kalian melampaui batas.” Peringatan ini menunjukkan bahwa penyimpangan tidak selalu lahir dari sikap meremehkan agama, tetapi terkadang justru muncul dari semangat beragama yang berlebihan tanpa dibarengi ilmu dan keseimbangan.

Pada akhirnya, istiqamah bukan soal seberapa hebat seseorang memulai perjalanan, melainkan seberapa kuat ia bertahan di jalan yang telah ditetapkan Allah ketika jalan itu terasa berat, tidak menarik, dan bertentangan dengan hawa nafsu. Di situlah manusia diuji, bukan pada langkah awalnya, tetapi pada kemampuannya untuk tetap lurus hingga akhir.