Opini  

Mahasiswa Keluhkan Harga Beras Mahal, Mentan Langsung Menelepon Dirut Bulog: Simbol Respons Cepat atau Tata Kelola yang Efektif?

Riska Wirawan, S.Sos, M.Si  Dosen Prodi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Foto: Sari

Dari perspektif ilmu politik, tindakan Menteri Pertanian juga dapat dipandang sebagai bentuk political responsiveness, yaitu kemampuan pemimpin menunjukkan bahwa suara masyarakat didengar. Respons seperti ini penting dalam negara demokrasi karena memperlihatkan adanya hubungan langsung antara pemerintah dan warga negara. Masyarakat ingin merasa bahwa aspirasinya tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi benar-benar mendapat perhatian.

Namun, demokrasi yang sehat juga membutuhkan institutional responsiveness, yaitu kemampuan lembaga negara bekerja secara profesional tanpa selalu bergantung pada figur tertentu. Kepercayaan publik seharusnya tidak hanya lahir karena adanya menteri yang aktif, tetapi karena masyarakat yakin bahwa seluruh institusi pemerintah mampu menjalankan tugasnya sesuai kewenangan masing-masing.

Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil. Dalam sistem demokrasi, mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai kelompok akademik, tetapi juga sebagai penyampai aspirasi publik. Kritik mengenai harga beras bukan semata-mata persoalan ekonomi, melainkan bentuk partisipasi warga negara dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Kehadiran mahasiswa yang menyampaikan persoalan masyarakat merupakan salah satu indikator bahwa ruang demokrasi masih berjalan.

Baca Juga :  Milenial dan Pasukan Tempur darat
Baca Juga :  Pancasila Sakti Merajut Jiwa Nasionalisme Untuk Bersama Membangun Negeri

Dari sisi administrasi negara, setiap keluhan masyarakat seharusnya dipandang sebagai umpan balik (feedback) terhadap kualitas kebijakan publik. Pemerintah tidak perlu menunggu laporan resmi atau hasil evaluasi tahunan untuk mengetahui persoalan di lapangan. Aspirasi yang muncul dalam forum dialog, media sosial, maupun kanal pengaduan dapat menjadi bahan penting untuk memperbaiki pelayanan publik.