Ketika Peta Menentukan Kesempatan Belajar
Realitas menunjukkan bahwa amanat tersebut masih menghadapi tantangan besar. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025, hanya sekitar 4% kecamatan di Indonesia yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian mutu baik. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa sebagian besar peserta didik Indonesia masih belajar di sekolah yang kualitasnya belum optimal. Kondisi itu diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang menunjukkan kemampuan literasi, numerasi, dan sains peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat harapan lama sekolah terus meningkat, tetapi rata-rata lama sekolah masyarakat Indonesia masih menunjukkan bahwa banyak peserta didik belum menyelesaikan pendidikan menengah. Data tersebut memberikan satu pesan yang jelas: akses pendidikan semakin luas, tetapi mutu pembelajaran masih menjadi tantangan utama.
Persoalan pendidikan Indonesia sesungguhnya bukan lagi sekadar membangun lebih banyak sekolah. Yang jauh lebih mendesak adalah memastikan bahwa setiap sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas. Selama bertahun-tahun, keberhasilan pembangunan pendidikan lebih sering diukur dari jumlah gedung yang dibangun, ruang kelas yang direnovasi, atau angka partisipasi sekolah yang meningkat. Ukuran tersebut memang penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan tidak boleh berhenti pada keberhasilan administratif. Keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari kemampuan peserta didik memahami bacaan, berpikir kritis, memecahkan persoalan, berkolaborasi, serta memiliki karakter yang kuat.








