SIDAKPOST.ID, YOGYAKARTA — Kehilangan sosok ayah di masa sekolah menengah atas menjadi titik terberat dalam hidup Deni Maulana. Lima tahun silam, ia harus menghadapi kenyataan pahit di tengah kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani serabutan, sementara sang ibu telah lama menjadi pekerja migran di Yordania sejak Deni berusia enam tahun.
Kondisi tersebut sempat membuat Deni ragu akan kelanjutan pendidikannya. Namun, dorongan dan pengorbanan ibunya menjadi kekuatan utama yang mengubah arah hidupnya. Salah satu momen yang tak pernah ia lupakan adalah ketika ibunya diam-diam menjual cincin satu-satunya demi memastikan ia tetap bisa sekolah dan makan.
“Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” kenangnya.
Sejak saat itu, mimpi bagi Deni bukan lagi sekadar keinginan, melainkan tanggung jawab.
Menembus UGM Lewat Prestasi Sastra
Perjalanan Deni menuju Universitas Gadjah Mada dimulai dari kecintaannya pada dunia sastra. Sejak SMA, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi bahasa dan sastra hingga berhasil mengoleksi lebih dari 200 penghargaan.
Puncaknya, ia meraih medali emas dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) baca puisi tingkat nasional. Prestasi tersebut menjadi tiket emas baginya untuk lolos ke UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Kini, Deni tercatat sebagai mahasiswa semester enam Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, sekaligus penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) yang membiayai pendidikannya hingga lulus.









