3. Menganggap Pengeluaran Kecil Tidak Berpengaruh
Secangkir kopi, makanan ringan, ongkos tambahan, atau belanja kecil mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan hampir setiap hari, jumlahnya dapat menjadi cukup besar.
Misalnya, pengeluaran Rp20 ribu sehari terlihat kecil. Jika berlangsung selama 30 hari, nilainya mencapai sekitar Rp600 ribu. Karena itu, mencatat pengeluaran sehari-hari bisa membantu mengetahui kebocoran keuangan yang selama ini tidak terasa.
4. Mengikuti Gaya Hidup Orang Lain
Media sosial sering membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Melihat teman membeli ponsel baru, makan di restoran mahal, atau berlibur dapat memunculkan keinginan untuk melakukan hal serupa.
Masalahnya, kemampuan finansial setiap orang berbeda. Gaya hidup sebaiknya disesuaikan dengan pendapatan, bukan mengikuti standar orang lain.
OJK juga mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan keuangan yang sehat dan tidak mudah terpengaruh tren maupun gaya hidup.
5. Menggunakan Paylater atau Kredit Secara Berlebihan
Kemudahan pembayaran secara cicilan membuat barang yang sebenarnya belum mampu dibeli terasa lebih mudah dijangkau.
Jika terlalu sering digunakan, cicilan dapat menumpuk dan mengambil sebagian besar pendapatan bulanan. Akibatnya, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau ditabung justru habis untuk membayar kewajiban.
Bukan berarti semua fasilitas kredit harus dihindari, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan membayar dan tujuan keuangan.
6. Tidak Menyisihkan Uang di Awal
Kesalahan lainnya adalah menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung. Dalam banyak kasus, uang tersebut akhirnya tidak tersisa.
Kebiasaan yang lebih teratur adalah menentukan jumlah tabungan sejak awal menerima penghasilan. OJK juga mendorong kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan di awal bulan sebagai bagian dari perencanaan keuangan yang lebih sehat.
Dengan begitu, menabung tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya uang sisa.









