Si Kancil dan WiFi Kerajaan: Siapa yang Punya Password?

Kancil dan para hewan hutan menggunakan teknologi di depan istana kerajaan. Foto: Madi/ AI

Pada zaman dahulu, ketika hutan masih sangat luas dan suara burung lebih sering terdengar daripada suara notifikasi ponsel, hiduplah seekor kancil bernama Kiko.

Kiko terkenal sebagai hewan yang cerdik. Ia bisa menemukan buah paling manis di hutan, mengetahui jalan pintas menuju sungai, dan bahkan pernah berhasil menipu seekor harimau yang sedang kelaparan.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa dilakukan Kiko.

Ia tidak bisa hidup tanpa WiFi.

Masalahnya, tentu saja, pada zaman itu belum ada WiFi.

“Ini tidak adil!” keluh Kiko suatu pagi sambil duduk di bawah pohon mangga.

Burung Pipit yang sedang mematuk biji-bijian menoleh.

“Tidak adil apanya?”

“Di hutan sebelah ada WiFi.”

“WiFi itu apa?”

Kiko menghela napas panjang.

“Entahlah. Tapi katanya kalau tersambung WiFi, hidup menjadi lebih cepat.”

“Lebih cepat bagaimana?”

“Kalau lapar, pesan makanan. Kalau bosan, lihat video. Kalau bingung, cari di internet.”

Burung Pipit mengerutkan dahi.

“Kalau begitu, kalau WiFi putus bagaimana?”

Kiko terdiam.

“Ya… kita kembali bingung.”

Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan menyebar ke seluruh hutan.

Kerajaan Hutan Raya yang dipimpin oleh Raja Singa telah memasang WiFi.

Kabarnya, jaringan itu memiliki jangkauan sampai ke sungai, bukit, bahkan sebagian hutan bambu.

Semua hewan langsung heboh.

Monyet membawa ponsel.

Burung Beo membawa tablet.

Kura-kura bahkan membawa laptop meskipun untuk membukanya saja membutuhkan waktu hampir setengah jam.

Kiko langsung berlari menuju istana.

Sesampainya di sana, ia melihat papan besar bertuliskan:

WIFI KERAJAAN
Cepat, Stabil, dan Gratis!

Mata Kiko berbinar.

“Gratis?”

Ia hampir pingsan karena bahagia.

Namun ketika Kiko mencoba menyambungkan ponselnya, muncul tulisan:

Masukkan kata sandi.

Kiko memasukkan:

123456

Salah.

Ia mencoba:

kancilcerdas

Salah.

Ia mencoba:

rajasinga

Salah.

Kiko menggaruk kepala.

“Password-nya apa?”

Ia bertanya kepada penjaga istana.

“Rahasia kerajaan,” jawab penjaga.

“Wah, kalau rahasia kenapa dipasang WiFi gratis?”

Penjaga mengangkat bahu.

“Perintah Raja.”

Kiko semakin penasaran.

Ia kemudian mendekati Raja Singa.

“Yang Mulia, boleh saya tahu password WiFi?”

Raja Singa menatapnya tajam.

“Untuk apa?”

“Untuk… meningkatkan pengetahuan.”

“Pengetahuan apa?”

Kiko tersenyum.

“Pengetahuan tentang video kucing.”

Raja Singa menghela napas.

“Password tidak boleh diberikan sembarangan.”

Kiko pun pulang dengan wajah murung.

Tetapi Kiko bukan kancil biasa.

Kalau pintu depan tidak bisa dibuka, ia akan mencari pintu samping.

Kalau pintu samping terkunci, ia mencari jendela.

Kalau jendelanya juga terkunci…

Ia mencari password.

Malam itu, Kiko menyusun rencana.

Ia mendatangi Monyet.

“Kamu tahu password WiFi kerajaan?”

Baca Juga :  Burung Pipit dan Angin Kencang

“Tidak.”

Ia mendatangi Burung Beo.

“Kalau kamu?”

“Tidak tahu.”

Ia mendatangi Kura-kura.

“Kamu?”

Kura-kura berpikir sangat lama.

“Sebentar… aku hampir ingat.”

“Password-nya?”

“Aku lupa mau mengingat apa.”

Kiko memukul dahinya.

“Lupakan.”

Akhirnya Kiko memutuskan menyelidiki sendiri.

Ia menyelinap ke sekitar istana.

Di depan ruang kerajaan, ia melihat Raja Singa sedang berbicara dengan Menteri Gajah.

“Bagaimana keadaan jaringan?” tanya Raja.

“Baik, Yang Mulia. Tetapi ada satu masalah.”

“Apa?”

“Banyak hewan memakai WiFi untuk menonton video.”

Raja Singa mengangguk.

“Itu memang masalah.”

Kiko yang bersembunyi di balik pot bunga langsung mengangguk juga.

“Betul sekali.”

Menteri Gajah melanjutkan.

“Bahkan kemarin ada burung yang menghabiskan enam jam hanya menonton video burung lain terbang.”

Kiko menutup mulut agar tidak tertawa.

Namun tiba-tiba…

“SIAPA DI SANA?”

Kiko membeku.

Raja Singa berdiri.

Kiko berlari secepat kilat.

Ia melompat melewati meja, menyelinap di antara kaki penjaga, lalu keluar melalui jendela.

“Kejar!” teriak penjaga.

Kiko berlari menuju hutan.

Namun ia tidak menyadari bahwa ada seekor monyet bernama Momo yang sedang duduk di pohon sambil memegang ponsel.

“Kiko!”

“Apa?”

“Aku tahu password WiFi!”

Kiko berhenti mendadak.

“APA?!”

Momo menunjukkan ponselnya.

“Katanya password-nya diganti kemarin.”

“Jadi apa?”

Momo tersenyum.

Rajasinga123.

Kiko langsung mencoba.

Salah.

“Coba huruf besar.”

Salah.

“Tambah tanda seru.”

Salah.

Kiko mulai kesal.

“Jangan-jangan kamu cuma bercanda!”

Momo tertawa.

“Ya.”

Kiko mengejar Momo mengelilingi pohon.

Keesokan harinya, Kiko kembali ke istana.

Kali ini ia tidak ingin mencuri password.

Ia ingin bertanya langsung kepada Raja.

“Yang Mulia, kenapa password WiFi dirahasiakan?”

Raja Singa menjawab,

“Karena WiFi kerajaan dibuat untuk membantu rakyat, bukan membuat mereka lupa waktu.”

Kiko mengangguk.

“Itu benar.”

“Kalau begitu, bagaimana menurutmu seharusnya WiFi digunakan?”

Kiko berpikir.

“Untuk belajar.”

“Bagus.”

“Untuk mencari informasi.”

“Bagus.”

“Untuk bekerja.”

“Bagus.”

“Dan…”

Raja Singa menunggu.

“Untuk menonton video lucu setelah selesai bekerja.”

Semua yang ada di ruangan tertawa.

Raja Singa akhirnya memberikan password kepada Kiko.

“Baiklah. Tapi ada syarat.”

“Apa?”

“Jangan gunakan WiFi untuk hal yang merugikan orang lain.”

Kiko mengangguk.

“Siap, Yang Mulia.”

Ia segera menyambungkan ponselnya.

Ternyata password-nya bukan kata biasa.

Password itu adalah:

BelajarDuluBaruScroll

Kiko terdiam.

“Yang Mulia… password ini terlalu panjang.”

Raja Singa tertawa.

“Supaya kamu tidak lupa tujuan utama WiFi.”

Sejak hari itu, kehidupan di hutan berubah.

Burung-burung menggunakan internet untuk belajar mengenali arah migrasi.

Monyet belajar membuat kerajinan.

Baca Juga :  Kisah Kelinci Sombong dan Kura-Kura yang Sabar

Kura-kura mulai membaca buku digital.

Bahkan Buaya yang terkenal malas mulai mengikuti kelas memasak.

“Kenapa kamu belajar memasak?” tanya Kiko.

Buaya menjawab,

“Aku ingin membuat sup.”

Kiko mundur perlahan.

“Sup apa?”

“Sup kancil.”

Kiko langsung mematikan WiFi.

“Yang Mulia! Password-nya ganti sekarang!”

Raja Singa tertawa terbahak-bahak.

Namun beberapa minggu kemudian, muncul masalah baru.

Semua hewan terlalu sibuk dengan ponsel.

Monyet tidak lagi memanjat pohon.

Burung tidak lagi bernyanyi.

Kura-kura berjalan sambil melihat layar.

Bahkan Harimau pernah menabrak pohon karena terlalu fokus membaca berita.

Raja Singa pun memanggil Kiko.

“Kita punya masalah.”

Kiko mengangguk.

“WiFi?”

“Bukan.”

“Password?”

“Bukan.”

“Buaya?”

“Bukan.”

“Syukurlah.”

Raja Singa menunjuk seluruh hutan.

“Semua hewan mulai lupa menikmati kehidupan nyata.”

Kiko berpikir sejenak.

Kemudian ia punya ide.

Hari berikutnya, Raja Singa mengumumkan:

Hari Tanpa WiFi.

Semua hewan terkejut.

“APA?!”

Monyet hampir menangis.

Burung Beo berteriak,

“Ini akhir dunia!”

Kura-kura memeluk laptopnya.

Kiko justru tersenyum.

“Tenang. Kita cuma sehari.”

Pada hari itu, semua hewan kembali melakukan kegiatan seperti dahulu.

Mereka bermain di sungai.

Memanjat pohon.

Bermain kejar-kejaran.

Bercerita.

Tertawa.

Mereka bahkan menemukan bahwa tanpa internet pun, hutan ternyata tidak membosankan.

Menjelang sore, Kiko duduk di bawah pohon sambil menikmati mangga.

Monyet datang.

“Ki.”

“Apa?”

“Menurutmu, besok WiFi dinyalakan lagi?”

“Tentu.”

“Syukurlah.”

Kiko tertawa.

“Tapi ingat. Jangan sampai kita menjadi hewan yang punya WiFi super cepat tetapi lupa menjalani hidup.”

Monyet mengangguk.

“Betul.”

Tiba-tiba Burung Beo terbang mendekat.

“Password! Password! Password!”

Kiko bertanya,

“Kenapa?”

Burung Beo menjawab,

“Aku lupa password WiFi!”

Semua hewan tertawa.

Kiko menatap langit sambil tersenyum.

Ia akhirnya menyadari sesuatu.

Teknologi memang bisa membuat hidup lebih mudah.

Tetapi kalau digunakan tanpa batas, teknologi juga bisa membuat kita lupa bahwa hidup yang sebenarnya tidak ada di dalam layar.

Dan sejak saat itu, Kiko punya aturan sendiri:

Gunakan internet untuk mencari ilmu, gunakan teknologi untuk membantu sesama, dan jangan lupa sesekali meletakkan ponsel agar bisa melihat dunia dengan mata sendiri.

Oh, satu lagi.

Kiko tidak pernah lupa password WiFi kerajaan.

Sebab password itu sudah ia tulis di belakang daun pisang.

Tulisannya:

BelajarDuluBaruScroll.

Namun ada satu masalah.

Suatu pagi, daun pisang itu dimakan kambing.

Kiko menatap kambing tersebut dengan wajah pucat.

“Jangan bilang kamu baru saja memakan password kerajaan…”

Kambing mengunyah santai.

“Mbeeek.”

Kiko berteriak,

“RAJA! PASSWORD-NYA HILANG!”

Dan seluruh hutan kembali gaduh.

TAMAT.