Jambi dan Desain Besar Sawit-Kelapa-Karet: Antara Rencana Strategis dan Realita

Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP Akademisi UIN STS Jambi

Oleh: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP
Akademisi UIN STS Jambi

Sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan Asta Cita yang tertuang dalam agenda nasional jangka panjang, arah kebijakan pembangunan Provinsi Jambi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 menegaskan peran strategis provinsi ini sebagai penyangga bioindustri dan ketahanan energi Sumatra.

Dalam kerangka tersebut, Jambi diarahkan untuk mengembangkan korporasi petani dan mengoptimalkan kawasan komoditas unggulan, khususnya sawit, kelapa, dan karet, yang tersebar di beberapa kabupaten seperti Muaro Jambi, Tebo, Merangin, Bungo, hingga Tanjung Jabung Barat dan Timur. Kawasan-kawasan ini diklasifikasikan secara strategis dalam dokumen RKP 2026 sebagai pusat produksi dan hilirisasi.

Baca Juga :  " Tujuh Manfaat Dahsyat Minum Air Putih di Pagi Hari "

Misalnya, Tanjung Jabung Timur dan Barat ditetapkan sebagai kawasan unggulan untuk sawit dan kelapa, sementara Cekungan Batanghari (yang meliputi enam kabupaten/kota) difokuskan untuk pengembangan sawit dan karet (Sumber: Draf RKP 2026, 7 April 2025).

Upaya ini kemudian diterjemahkan lebih lanjut melalui desain kawasan unggulan yang difokuskan pada komoditas kelapa sawit, karet, dan kelapa sebagai langkah strategis untuk mewujudkan arah kebijakan tersebut secara konkret di lapangan.

Baca Juga :  Curug Pangeran: Permata Tersembunyi di Gunung Bunder

Desain kawasan unggulan kelapa sawit, karet dan kelapa yang tengah diinisiasi di Provinsi Jambi merupakan bagian dari visi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Dengan mengusung tiga pilar utama, hilirisasi, keberlanjutan, dan peningkatan ekonomi masyarakat, desain ini selaras secara strategis dengan arah RPJMN 2025–2029 serta cita-cita pembangunan nasional yang berkelanjutan dan inklusif.