Namun, seperti halnya secercah mimpi, peluang besar ini menyimpan tantangan yang perlu cermat diantisipasi agar tidak menjadi retorika semata.
Fondasi untuk mewujudkan desain besar ini sejatinya telah dimiliki Jambi, mengingat provinsi ini memiliki basis pertanian yang kuat dan kontribusi nyata dari sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kelapa sawit rakyat tahun 2024 mencapai 2,496 juta ton, dan produksi kelapa tercatat 114 ribu ton. Jambi menempati peringkat ke-6 nasional dalam produksi sawit dengan luas lahan mencapai 1,1 juta hektare (Sumber: opendata.jambiprov.go.id). Tak kurang dari 252 ribu kepala keluarga menggantungkan hidup pada sektor ini, dan subsektor perkebunan (terutama sawit) menyumbang 22,42 % terhadap PDRB Jambi tahun 2023, naik dari 20,95 % pada tahun sebelumnya.
Selain kelapa dan kelapa sawit, karet juga menjadi komoditas unggulan yang tak kalah strategis bagi Provinsi Jambi. Menurut data BPS Jambi tahun 2024, luas areal perkebunan karet rakyat di Jambi mencapai 601,8 ribu hektare, dengan produksi tahunan sekitar 430.000 ton.
Komoditas ini tersebar luas di wilayah seperti Kabupaten Batanghari, Bungo, dan Tebo. Meski kontribusinya terhadap PDRB sedikit di bawah sawit, sektor karet tetap menjadi penopang ekonomi rumah tangga petani di pedesaan.
Namun, berbeda dengan sawit yang telah mengalami proses hilirisasi lebih masif, industri pengolahan karet di Jambi masih terbatas pada pengolahan bahan setengah jadi seperti crumb rubber, dengan nilai tambah yang relatif kecil. Tantangan klasik seperti fluktuasi harga karet dunia, rendahnya akses petani terhadap teknologi pascapanen, dan lemahnya integrasi antara koperasi petani dengan pabrik pengolahan menjadi penghambat utama penguatan rantai nilai karet.









