Dari sisi kesejahteraan petani, tren positif sempat terlihat. Nilai Tukar Petani (NTP) Jambi pada Desember 2024 mencapai 172,17, meningkat signifikan dari 142,2 di awal tahun. Namun, data terbaru menunjukkan adanya tekanan baru: per Juni 2025,
NTP turun menjadi 166,94, dan NTUP tercatat 170,03, menandakan bahwa daya beli petani mulai tergerus (Sumber: jambi.bps.go.id).
Transformasi Hilirisasi Komoditas Unggulan: Peluang dan Ketimpangan
Secara nasional, hilirisasi kelapa sawit telah menunjukkan dampak besar.
Kapasitas pengolahan CPO (refinery) meningkat dari 25 juta ton pada 2010 menjadi 75 juta ton pada 2022 naik tiga kali lipat dalam dua dekade (Sumber: ikmbspjisby.kemenperin.go.id, KOMPAS.com). Industri turunan seperti biodiesel memiliki kapasitas hingga 17,5 juta ton/tahun, oleokimia 11,6 juta ton/tahun, dan oleofood 2,7 juta ton/tahun.
Hasilnya, ekspor produk sawit hilir kini menyumbang 73 % dari total ekspor sawit Indonesia (2022), meningkat tajam dari hanya 18 % pada 2015. Nilai ekspor hilir periode 2015–2022 tercatat 176,84 miliar USD, menyerap 5,2 juta tenaga kerja, dan menopang kehidupan lebih dari 21 juta jiwa rakyat Indonesia (Sumber: pasardana.id, Antara News).
Namun, tidak semua daerah meraih keberhasilan serupa.
Di Kalimantan Timur, misalnya, meski memiliki cadangan sawit besar, banyak proyek hilirisasi mandek akibat minimnya infrastruktur dasar seperti pelabuhan, listrik, dan jalan produksi. Selain itu, petani swadaya yang belum tersertifikasi ISPO kesulitan mengakses pasar dan pendanaan, membuat keuntungan hilirisasi hanya mengalir ke korporasi besar (Sumber: indonesia.go.id, bpdp.or.id).
Peluang Struktural dan Tantangan di Provinsi Jambi
Provinsi Jambi memiliki semua elemen dasar untuk mengembangkan hilirisasi yang inklusif: luas lahan, produksi tinggi, dan daya beli petani yang sempat meningkat. Namun, sejumlah hambatan struktural masih nyata:
• Akses modal terbatas bagi koperasi dan petani kecil untuk membangun unit pengolahan.
• Infrastruktur belum merata, terutama di wilayah produktif seperti Muaro Jambi, Tebo, Merangin, dan Bungo.
• Sertifikasi ISPO/RSPO masih menghadapi tantangan legalitas lahan dan kapasitas teknis petani (Sumber: opendata.jambiprov.go.id).
Pendekatan Strategis Menuju Hilirisasi Inklusif dan Berkelanjutan
Agar hilirisasi tidak menjadi simbol pembangunan semu, Jambi perlu menerapkan tiga strategi utama:
1. Infrastruktur dan Pembiayaan Inklusif
Fasilitas seperti pelabuhan mini, jalan produksi, dan listrik harus dibangun di sentra produksi. Akses modal dari BPDPKS, KUR, dan dana desa perlu diarahkan untuk koperasi petani dan BUMDes. Misalnya, koperasi petani karet di Bungo dapat difasilitasi untuk memiliki peralatan pengasapan dan pembekuan lateks agar menghasilkan produk olahan yang berdaya saing industri.
2. Penguatan Kelembagaan Petani dan Sertifikasi Berbasis Kebutuhan
Pemerintah harus memperkuat koperasi sebagai aktor utama hilirisasi, seperti model sukses di Sumatera Barat. Pelatihan teknis dan pendampingan administrasi ISPO/RSPO serta akses pasar perlu dijalankan secara paralel untuk petani sawit, kelapa, dan karet.
3. Transparansi, Partisipasi, dan Pengawasan Publik
Distribusi manfaat hilirisasi mesti terbuka. Monitoring sosial dan audit publik harus dilakukan untuk memastikan partisipasi petani kecil dan mencegah dominasi korporasi besar.









