Minimnya waktu berkualitas ini berbanding lurus dengan pengawasan yang longgar terhadap paparan anak terhadap dunia digital.
Bukan hanya masalah waktu, tetapi juga literasi digital. Irving (2024) dalam analisisnya tentang “The Decline of Family Influence” menyebutkan bahwa orang tua modern kesulitan mengimbangi kecepatan perkembangan platform digital yang dihadapi anak, membuat pengawasan moral menjadi longgar.
Chandra & Singh (2025) bahkan membahas kompleksitas Parenting in the Metaverse, menunjukkan betapa cepatnya tantangan itu berubah.
Konflik antara nilai-nilai tradisional yang diajarkan di rumah dan nilai-nilai yang dikonsumsi anak dari lingkungan digital global sering menimbulkan polarisasi yang sulit dikendalikan.
Dalam konteks regulasi, meskipun Undang-Undang Perlindungan Anak menekankan peran sentral keluarga, faktanya, tantangan implementasi di lapangan menunjukkan perlunya institusi pendukung yang lebih terstruktur.
D. Family Parenting: Alternatif Pendidikan Utama Anak dalam Keluarga
Model ideal dari pendidikan karakter anak tentu berpusat pada Family Parenting yang kuat. Di negara-negara maju, Education Review (Kim, 2023) sering membandingkan hasil karakter siswa dan menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang sukses membutuhkan intervensi yang konsisten.
Model yang sukses sering didasarkan pada penekanan pendidikan emosi, etika, dan tanggung jawab sosial sejak dini. Konsep Intentional Parenting adalah kunci, di mana pendidikan berbasis kesadaran, nilai, dan komunikasi asertif menjadi prioritas.
Patel & G. (2021) juga menegaskan bahwa aliansi baru antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting untuk membentuk karakter yang stabil dan komprehensif.







