Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.
(Guru besar UIN STS Jambi)
A. Pendahuluan
Impian besar Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan infrastruktur semata, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusianya. Generasi yang akan memimpin pada tahun tersebut haruslah generasi yang bukan hanya cerdas secara akal, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.
Johnson (2020) berpendapat bahwa untuk mencapai kompetensi global, kita harus memodernisasi tradisi pendidikan dengan fokus pada karakter. Tantangan utama saat ini adalah globalisasi dan derasnya arus digital, yang secara fundamental memengaruhi cara generasi muda (generasi Z dan Alpha) menyerap nilai dan membentuk identitas.
Quinn (2024) menekankan bahwa future-proofing generasi memerlukan pendidikan untuk ketahanan moral dan spiritual. Pentingnya karakter (resilience, akhlak, dan iman) sebagai fondasi kecerdasan adalah prasyarat mutlak untuk mencapai visi keemasan tersebut.
Esai ini bertujuan menganalisis ancaman digital terhadap karakter anak dan menawarkan model Pendidikan Berasrama modern sebagai intervensi yang efektif dan inklusif.
B. Otak dan Hati Anak Sedang Dicuri: Problem Mendasar di Era Digital
Coba perhatikan anak remaja di sekitar kita, mereka adalah generasi yang lahir dengan gawai di tangan. Mereka cerdas dan cepat beradaptasi, tapi di balik itu, ada ancaman serius yang seringkali tak terlihat, yaitu bagaimana teknologi digital secara diam-diam sedang menggerus akhlak dan moral mereka.
Ini terjadi pada usia anak, hingga usia krusial, yaitu siswa sekolah menengah yang sedang menapaki masa remaja awal menuju kedewasaan.







