Strategi Percepatan Capaian IPM Bidang Pendidikan di Provinsi Jambi

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Ketua ICMI Orwil Jambi – Guru Besar UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Posisi IPM Provinsi Jambi di Sumatera dan Nasional

Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik, capaian Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jambi pada tahun 2025 mencapai 75,13, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 74,36 (BPS, 2025).

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Provinsi Jambi mengalami perkembangan yang positif dalam beberapa tahun terakhir.

Namun jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumatera, posisi Jambi masih berada pada kelompok menengah.

Beberapa provinsi di Sumatera memiliki capaian IPM yang lebih tinggi seperti Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Riau, dan Sumatera Utara.

Dalam komparasi wilayah Sumatera, Provinsi Jambi berada pada peringkat ke-8 dari 10 provinsi di Pulau Sumatera.

Baca Juga :  Menanamkan Kewirausahaan Sejak SD: Mempersiapkan Generasi Mandiri dan Kreatif

Sementara itu pada tingkat nasional, capaian IPM Jambi juga masih berada pada kelompok menengah.

Berdasarkan kompilasi data IPM seluruh provinsi di Indonesia tahun 2025, posisi Provinsi Jambi berada sekitar peringkat ke-18 dari 38 provinsi di Indonesia.

Posisi ini menunjukkan bahwa meskipun pembangunan manusia di Jambi terus mengalami peningkatan, percepatan pembangunan pendidikan masih diperlukan agar mampu mengejar provinsi-provinsi lain yang memiliki kualitas sumber daya manusia lebih tinggi.


Faktor yang menyebabkan ketertinggalan

Beberapa faktor yang menyebabkan posisi IPM Jambi belum optimal dapat dijelaskan melalui beberapa aspek struktural.

Pertama, ketimpangan akses pendidikan antar wilayah. Wilayah perkotaan seperti Kota Jambi memiliki fasilitas pendidikan yang relatif lebih lengkap dibandingkan wilayah pedesaan dan daerah terpencil.

Baca Juga :  Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

Kedua, rata-rata lama sekolah masyarakat yang masih terbatas. Sebagian besar tenaga kerja masih memiliki tingkat pendidikan menengah sehingga kapasitas produktivitas ekonomi belum optimal.

Ketiga, hubungan erat antara kemiskinan dan pendidikan. Rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah sering menghadapi keterbatasan dalam membiayai pendidikan anak-anaknya.

Keempat adalah struktur ekonomi daerah yang masih bertumpu pada sektor sumber daya alam, seperti perkebunan dan pertambangan. Ketergantungan pada sektor ini seringkali tidak diimbangi dengan investasi yang memadai pada pembangunan sumber daya manusia.