Si Licik yang Menjilat, Si Pintar yang Tersingkir

Gambar Ilustrasi Tuan Raga dan Banu Dalam Dongeng. (Sidakpost.id/ Del)

Si Bodoh Naik Jabatan, Si Pintar Terbuang

Tak butuh waktu lama, Banu mendapatkan promosi. Dari pegawai biasa, ia diangkat menjadi penasihat khusus bos. Kini, ia bisa mengatur banyak hal di perusahaan.

Banu semakin berkuasa. Setiap ada rapat, ia memastikan hanya orang-orang yang mau mengangguk setuju yang boleh berbicara. Siapa pun yang berani memberi saran berbeda dari pendapatnya, akan disingkirkan.

“Perusahaan ini tidak butuh pengkhianat!” katanya setiap kali seseorang berani mengoreksi kebijakan bos.

Sementara itu, Raka semakin terpojok. Semua ide briliannya diabaikan, dan akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

“Aku tak bisa bekerja di tempat yang lebih menghargai penjilat daripada orang yang bekerja dengan baik,” ujar Raka.

Baca Juga :  Dana BOS Tak Kunjung Cair, Kepsek SDN Vll Koto Ilir Mengeluh

Tak lama setelah Raka pergi, keadaan perusahaan mulai menurun. Banyak proyek gagal karena keputusan buruk yang didukung oleh Banu. Para karyawan yang kompeten satu per satu pergi karena mereka tidak tahan dengan kepemimpinan yang penuh kepalsuan.

Namun, Banu tidak peduli. Ia tetap berada di sisi Tuan Raga dan terus berkata:

“Jangan khawatir, Tuan. Perusahaan kita masih yang terbaik. Jika ada masalah, pasti karena orang lain yang tidak bekerja dengan benar.”

Hingga akhirnya, perusahaan bangkrut.

Si Penjilat Kabur Mencari Mangsa Baru

Saat perusahaan hampir runtuh, Banu diam-diam sudah mencari tempat kerja baru. Ia pindah ke perusahaan lain dan mulai melakukan hal yang sama. Dengan cepat, ia kembali naik jabatan dengan keahliannya: menjilat bos.

Baca Juga :  Kepemimpinan Mustafa Lampung Tengah Masuk 4 Besar Kinerja Penyelenggaraan Pemda Terbaik

Sementara itu, Raka yang dulu disingkirkan malah sukses membangun perusahaannya sendiri. Dengan kerja keras dan kejujurannya, ia menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkembang pesat.

Sampai suatu hari, mantan bosnya, Tuan Raga, mencoba melamar kerja ke perusahaan milik Raka. Namun, Raka hanya tersenyum dan berkata:

“Maaf, kami hanya menerima orang-orang yang jujur dan kompeten.”

Sementara itu, nasib Banu masih sama: berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, terus menjilat bos baru, sampai akhirnya suatu hari ia bertemu dengan atasan yang lebih pintar dan sadar akan kelicikannya. Saat itulah karier Banu benar-benar hancur.