Tantangan di Era Efisiensi Anggaran
Ketergantungan terhadap transfer pusat semakin terasa problematis di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional. Setiap penyesuaian fiskal dari pemerintah pusat akan langsung berdampak ke daerah.
Akibatnya, pembangunan tetap berjalan, tetapi dengan kecepatan terbatas dan cenderung stagnan. Jika pola ini terus dipertahankan, maka lompatan pembangunan akan sulit tercapai. Karena itu, diperlukan perubahan paradigma dalam melihat sumber pertumbuhan ekonomi daerah.
Struktur Ekonomi yang Masih Rentan
Selain persoalan fiskal, struktur ekonomi Jambi juga menghadapi tantangan serius. Perekonomian daerah masih didominasi oleh komoditas primer seperti kelapa sawit dan karet.
Ketergantungan ini membuat ekonomi Jambi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global. Saat harga komoditas naik, pertumbuhan terdorong. Namun ketika harga turun, tekanan langsung dirasakan, termasuk pada pendapatan masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum bersifat struktural dan masih rentan terhadap guncangan eksternal. Tanpa diversifikasi, Jambi akan terus berada dalam siklus naik-turun yang sulit dikendalikan.
Hilirisasi yang Belum Optimal
Persoalan lain adalah rendahnya nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Sebagian besar produk masih dijual dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan yang memadai.
Akibatnya, nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh pihak di luar daerah. Padahal, potensi pengembangan industri pengolahan sangat besar.
Hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan pendapatan daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja. Tanpa langkah serius di sektor ini, Jambi akan terus menjadi pemasok bahan baku, bukan pemain utama dalam rantai nilai ekonomi.






