Sementara itu, Koperasi Merah Putih dapat memainkan peran strategis dalam memperkuat ekosistem pangan daerah. Koperasi dapat menjadi penghubung antara petani dan pasar, memotong rantai distribusi yang panjang, serta menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil. Dalam konteks ini, penguatan koperasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kedaulatan pangan.
Namun demikian, menata kemandirian pangan tidak cukup hanya dengan mengandalkan program. Ia membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah alih fungsi lahan pertanian yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Lahan produktif yang seharusnya menjadi basis produksi pangan justru beralih menjadi kawasan non-pertanian.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur, khususnya jaringan irigasi, masih menjadi kendala klasik yang belum sepenuhnya teratasi. Banyak lahan pertanian yang masih bergantung pada curah hujan, sehingga produktivitasnya tidak stabil. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat upaya peningkatan produksi secara berkelanjutan.
Tantangan lainnya adalah regenerasi petani. Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Indonesia, termasuk di Jambi, berada pada kelompok usia tua. Sementara itu, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian masih relatif rendah. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, maka sektor pertanian akan menghadapi krisis sumber daya manusia di masa depan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kepemimpinan menjadi faktor kunci. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukan hanya yang mampu merumuskan kebijakan, tetapi juga yang mampu menggerakkan seluruh potensi daerah secara kolaboratif. Dalam hal ini, komitmen yang disampaikan oleh Dr. H. Al Haris menjadi penting sebagai arah sekaligus energi bagi seluruh perangkat daerah.






