Menurut Via Dicky, prosesi penobatan Sultan Fuad dilaksanakan mengikuti tata cara dan tradisi Kesultanan Jambi. Prosesi tersebut disaksikan ulama, kerabat senior, serta klan Sultan Mas’ud Badaruddin.
“Sampai saat ini belum ada pihak yang memprotes atau membantah keabsahan data tersebut melalui adu data maupun jurnal akademik. Kehadiran Raja Fuad diharapkan menjadi simbol pemersatu masyarakat Jambi serta mendorong masyarakat untuk mengenal, menghargai, dan melestarikan sejarah Kesultanan Jambi,” ujar Via Dicky.
Sementara itu, pemerhati sejarah di Kabupaten Tebo, M. Husni, mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan sejarah serta budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Mari kita lestarikan budaya lokal sebagai kekayaan khazanah sejarah Nusantara agar tidak lekang oleh waktu,” ujar M. Husni, Selasa (28/7/2026). (asa)








