-
Nabi Ibrahim AS: Ayah yang mengajarkan ketaatan total (tsiqah) pada kehendak Ilahi kepada Nabi Ismail AS. Kisah pengorbanan yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir (2000) adalah puncak pendidikan tauhid dan penyerahan diri.
-
Nabi Muhammad SAW: Beliau adalah teladan ayah yang menunjukkan rahmah (kasih sayang universal). Martin Lings (2005) menggambarkan bahwa Nabi membiarkan cucu-cucunya bermain di punggungnya saat shalat. Ini mengirimkan pesan kuat bahwa ayah adalah ruang aman dan bermain pertama bagi anak, bahkan dalam situasi formal ibadah.
Penutup
Peran ayah modern menghadapi tekanan yang kompleks dan eksistensial. Hari Ayah Nasional harus menjadi momentum evaluasi bagi semua pihak. Ayah harus kembali menjadi: pemimpin spiritual (berdasarkan warisan sufistik), pendidik dialogis (sesuai tuntutan kontemporer dan Gen Alpha), dan teladan moral (mencontoh kenabian).
Kedamaian keluarga akan tegak, bukan karena tingginya penghasilan, tetapi karena kuatnya tiang tarbiyah yang dipancangkan oleh sang ayah. Tantangan bagi ayah hari ini adalah menjadi filter yang bijak bagi arus digital dan globalisasi budaya (Widodo, 2024), memastikan bahwa anak mampu menyaring informasi, sehingga warisan spiritual dan karakter mereka tetap kokoh.
Referensi:
- Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. (n.d.). Shahih Al-Bukhari (Vol. 7). Beirut: Dar Touq Al-Najat.
- Al-Qodhi, M. B. (2023). Digital Parenting in Islamic Perspective: Addressing Cyber Risks and Ethical Frameworks. London: Oxford University Press.
- An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (1998). Riyadhus Shalihin. (Terj. M. Syaikh Abdurrahman). Jakarta: Gema Insani.
- Burton, L. S. (2020). The Role of the Father in Globalized Societies: Paternal Identity in the Digital Age. London: Routledge.
- Hassan, R. A. (2007). Islamic Parenting: A Guide to Rearing Children in Modern Times. New York: Oxford University Press.
- Ibn Katsir, Abu Al-Fida Ismail. (2000). Qishash Al-Anbiya’. Beirut: Dar Al-Fikr.
- Lings, M. (2005). Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Rochester, VT: Inner Traditions International.
- Mutawalli, L. (2018). Kepemimpinan Ayah dalam Keluarga Muslim di Era Digital. Jurnal Studi Islam dan Pendidikan, 10(2), 155-170.
- Nasution, H. (2019). Fiqih Keluarga Indonesia: Pendekatan Maqashid Syariah. Yogyakarta: Deepublish.
- Pratama, I. (2022). Peran Ayah dalam Pembentukan Karakter Anak Generasi Alpha di Masa Pandemi dan Post-Pandemi. Jurnal Pendidikan Islam Kontemporer, 4(1), 45-60.
- Rif’at, A. (2021). Rekonstruksi Fiqih Keluarga: Kewajiban Nafkah Non-Materi Ayah dalam Komunikasi Digital. Jurnal Hukum Keluarga Modern, 8(3), 112-130.
- Said, A. F. (2020). Sufism and Modern Subjectivity: The Quest for Inner Peace in a Chaotic Digital World. New York: Columbia University Press.
- Shihab, M. Q. (2006). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Jilid 10). Jakarta: Lentera Hati.
- Widodo, H. (2024). Kepemimpinan Ayah di Tengah Arus Globalisasi Budaya: Perspektif Psikologi Keluarga Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- Zuhaili, Wahbah Al-. (2007). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Vol. 7). Damaskus: Darul Fikr.







