Dari Rumah Prajurit, Istri TNI di Bungo Ini Sukses Angkat Batik Lokal hingga Dilirik Publik

Lissa Batik” mampu memproduksi sekitar 35 lembar batik setiap bulan, dengan ciri khas motif lokal Bungo yang sarat makna. Foto : Sari

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Siapa sangka, dari rumah sederhana seorang istri prajurit TNI di Kabupaten Bungo, Jambi, lahir karya batik yang kini mulai dikenal luas. Adalah Ny. Lia Syarif, sosok di balik “Lissa Batik”, yang perlahan mengangkat pamor batik khas Bungo.

Berawal dari pelatihan membatik di desa pada 2022, Ny. Lia hanya sekadar mencoba. Namun, ketertarikan yang tumbuh membuatnya terus belajar hingga akhirnya berani menerima pesanan pertama.

“Awalnya coba-coba, tapi ternyata banyak yang suka,” ujarnya. Kamis (29/4/2026).

Dari titik itu, usahanya terus berkembang. Kini, “Lissa Batik” mampu memproduksi sekitar 35 lembar batik setiap bulan, dengan ciri khas motif lokal Bungo yang sarat makna.

Baca Juga :  Gulung Tikar Toke Karet, Mulyanto Sukses Jadi Petani Cabai

Motif seperti Bungo Dani, Putri malu, hingga Daun Sirih Pinang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menyimpan filosofi kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri.

Tak hanya fokus produksi, Ny. Lia juga aktif memperkenalkan batik ke generasi muda. Ia kerap diundang ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan seni membatik, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal.

Perjalanannya pun tak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pelatihan, komunitas, hingga pembinaan dari pemerintah daerah.

Baca Juga :  Serbuan Teritorial TNI Diakui Warga Banyak Manfaat

Meski usahanya terus berkembang, Ny. Lia tetap menjalankan peran utamanya sebagai ibu rumah tangga dan istri prajurit. Baginya, batik bukan sekadar bisnis, tetapi juga jalan untuk berbagi manfaat.

“Harapannya bisa bantu ibu-ibu punya penghasilan tanpa meninggalkan keluarga,” ungkapnya.

Kisah Ny. Lia menjadi bukti, dari rumah prajurit lahir karya yang tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya daerah agar tetap lestari di tengah zaman. (sri)