Opini  

Hutan Dijarah, Satwa Dipenjara, Nurani Manusia Menghilang

Ilustrasi kerusakan hutan, satwa dalam kandang, dan ironi keserakahan manusia. Foto: Madi/ AI

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Ada ironi yang sulit diterima akal sehat. Manusia mengaku sebagai makhluk paling cerdas di bumi, tetapi justru menjadi penyebab utama rusaknya tempat tinggalnya sendiri. Hutan ditebang tanpa belas kasihan, gunung dikeruk, sungai dicemari, lalu ketika satwa kehilangan rumahnya, kita menangkap mereka dan memasukkannya ke dalam kandang yang kita sebut kebun binatang.

Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan dalih konservasi.

Padahal, konservasi yang sesungguhnya adalah menjaga hutan tetap berdiri, menjaga sungai tetap mengalir jernih, dan membiarkan satwa hidup bebas di habitatnya. Kebun binatang seharusnya menjadi pilihan terakhir bagi satwa yang benar-benar tidak dapat dikembalikan ke alam, bukan menjadi akibat dari kerakusan manusia yang terus merampas ruang hidup mereka.

Yang lebih menyedihkan, penderitaan satwa tidak berhenti di balik jeruji kandang. Di beberapa tempat, anggaran yang seharusnya digunakan untuk membeli pakan, obat-obatan, memperbaiki kandang, hingga meningkatkan kesejahteraan satwa justru diduga menjadi sasaran korupsi. Jika itu terjadi, maka bukan hanya uang negara yang dicuri, tetapi juga hak makhluk hidup yang sepenuhnya bergantung pada kepedulian manusia.

Bayangkan seekor harimau yang kehilangan hutan karena penebangan liar. Ia kemudian ditangkap karena dianggap mengganggu permukiman. Setelah dipindahkan ke kebun binatang, makanan yang menjadi haknya justru berkurang karena ulah oknum yang lebih mencintai uang daripada kehidupan. Betapa tragis nasib satwa yang menjadi korban berkali-kali oleh spesies yang mengaku paling beradab.

Baca Juga :  Drama Korea dalam Demokrasi

Keserakahan memang tidak pernah mengenal batas. Hari ini manusia menebang pohon demi keuntungan. Besok ia membangun gedung di atas lahan yang dulunya hutan. Ketika banjir, longsor, dan cuaca ekstrem datang, manusia menyalahkan alam, seolah lupa bahwa bencana itu sering kali merupakan balasan dari kerusakan yang ia ciptakan sendiri.

Yang hilang bukan hanya pohon. Bersama setiap hektare hutan yang musnah, hilang pula rumah bagi orangutan, harimau, gajah, burung, dan ribuan spesies lainnya. Hilang pula sumber air bersih, udara segar, dan keseimbangan ekosistem yang selama ini menopang kehidupan manusia. Ketika satu mata rantai rusak, seluruh kehidupan ikut terguncang.

Uang memang bisa membeli gergaji mesin, alat berat, bahkan kekuasaan. Namun uang tidak akan mampu menciptakan kembali hutan hujan yang telah tumbuh selama ratusan tahun hanya dalam semalam. Uang juga tidak dapat menghidupkan spesies yang telah punah akibat kerakusan manusia.

Baca Juga :  Pemimpin Birokrasi Gagap Hadapi Kecepatan Digital

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika keserakahan dianggap sebagai hal biasa. Ketika keuntungan selalu menjadi ukuran keberhasilan, sementara kepedulian terhadap alam dipandang sebagai hambatan pembangunan. Padahal, pembangunan yang mengorbankan lingkungan pada akhirnya hanya akan meninggalkan warisan berupa bencana dan penderitaan bagi generasi berikutnya.

Sudah saatnya manusia berhenti merasa sebagai penguasa alam. Kita hanyalah bagian kecil dari ekosistem yang saling bergantung. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dihitung nilainya dalam rupiah. Satwa liar bukan tontonan yang lahir untuk menghibur manusia. Mereka adalah sesama makhluk hidup yang memiliki hak untuk hidup di rumah mereka sendiri.

Jika masih ada yang tega merusak hutan, lalu membiarkan satwa menderita, bahkan mencuri anggaran yang diperuntukkan bagi perawatan mereka, maka yang sedang mati bukan hanya pepohonan atau binatang. Yang perlahan mati adalah nurani kita sebagai manusia.

Sebab peradaban tidak diukur dari tingginya gedung yang dibangun atau besarnya keuntungan yang diraih, melainkan dari bagaimana manusia memperlakukan alam dan makhluk hidup yang tidak mampu membela dirinya sendiri.