SIDAKPOST.ID, BUNGO – Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa makna hijrah tidak hanya sebatas meninggalkan dosa-dosa yang tampak secara lahiriah, tetapi juga membersihkan penyakit hati yang sering kali tidak disadari.
Dalam kajian bertema Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik dengan Iman, Ilmu, dan Amal, UAS membagi hijrah ke dalam beberapa tingkatan yang harus ditempuh setiap muslim agar benar-benar menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Menurutnya, tingkatan pertama merupakan hijrah yang paling umum dilakukan masyarakat, yakni meninggalkan berbagai perbuatan maksiat yang nyata.
“Hijrah yang pertama adalah meninggalkan syirik, zina, khamar, riba, ghibah dan berbagai kemaksiatan lainnya,” jelas UAS.
Ia mengatakan, dosa-dosa tersebut mudah dikenali karena pelakunya sadar bahwa dirinya sedang melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Namun, UAS mengingatkan bahwa setelah berhasil meninggalkan maksiat yang tampak, seorang muslim masih menghadapi ujian yang lebih berat, yakni hijrah dari penyakit hati.
“Hijrah yang kedua adalah meninggalkan takabur. Ini tidak kelihatan. Orang bisa saja tidak berjudi, tidak berzina, tidak minum khamar, tetapi merasa dirinya paling banyak ibadah, paling banyak sedekah, paling rajin berzikir, dan merasa lebih baik daripada orang lain,” ujarnya.
Menurut UAS, pada fase inilah iblis sering berhasil menyesatkan manusia. Ketika seseorang sudah tidak lagi tergoda oleh maksiat yang kasat mata, iblis akan menanamkan rasa bangga terhadap amal ibadah sehingga muncul kesombongan.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seseorang tidak akan masuk surga apabila di dalam hatinya masih terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar biji sawi.
UAS kemudian menjelaskan bahwa kesombongan merupakan sebab utama iblis terusir dari surga.
“Iblis bukan masuk neraka karena minum khamar, bukan karena berzina, bukan pula karena menyembah berhala. Iblis dikeluarkan dari surga karena merasa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam,” tegasnya.
Ketika Allah SWT memerintahkan sujud kepada Adam, iblis menolak karena menganggap dirinya diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah.
“Ana khairun minhu, aku lebih baik daripada dia. Kalimat itulah yang membuat iblis terusir,” jelas UAS.
Karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak hanya fokus memperbaiki amalan lahiriah, tetapi juga terus membersihkan hati dari sifat hasad, dengki, ujub, riya, dan merasa paling benar.
Di akhir ceramahnya, UAS menyebut bahwa setelah berhasil meninggalkan maksiat lahiriah dan penyakit hati, masih ada tingkatan hijrah yang lebih tinggi lagi, yakni meninggalkan kelalaian dalam mengingat Allah SWT.
Menurutnya, hijrah merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup. Semakin tinggi kualitas hijrah seseorang, semakin besar pula upayanya menjaga hati agar tetap ikhlas, rendah hati, dan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan. (Sum)








