Opini  

Fenomena Oknum yang Gemar Mengadu Domba demi Keuntungan Pribadi

Ilustrasi suasana percakapan di lingkungan sosial: seorang oknum terlihat membisikkan informasi berbeda kepada dua kelompok warga hingga memicu kesalahpahaman dan saling curiga. Foto: AI

Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka, masih saja kita menemukan fenomena sebagian kecil oknum yang menjadikan relasi sosial sebagai alat untuk kepentingan pribadi. Mereka kerap hadir di berbagai lingkungan, bukan sebagai penyejuk suasana, melainkan justru sebagai pemantik perpecahan.

Salah satu pola yang sering terlihat adalah kebiasaan mengadu domba. Informasi dipelintir, isu diperbesar, bahkan kadang ditambah bumbu narasi agar pihak-pihak tertentu saling curiga. Tujuannya tidak lain demi mendapatkan keuntungan sesaat, baik berupa materi, akses, maupun pengaruh di lingkungan tertentu.

Ironisnya, perilaku seperti ini kerap dilakukan oleh individu yang secara sosial sebenarnya sudah memiliki tanggung jawab keluarga. Namun, alih-alih fokus pada peran utama sebagai kepala rumah tangga atau anggota masyarakat yang produktif, sebagian justru masih mencari jalan pintas dengan “mengambil kesempatan” dari situasi yang tidak sehat, termasuk memburu keuntungan kecil atau fasilitas gratis dari berbagai pihak.

Baca Juga :  Mengguncang Dunia Tanpa Narkoba: Refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-96

Fenomena ini tentu bukan cerminan mayoritas masyarakat. Namun, kehadirannya cukup mengganggu karena dapat merusak kepercayaan antarindividu. Sekali kepercayaan runtuh akibat provokasi dan manipulasi informasi, dampaknya bisa meluas dan sulit diperbaiki.

Di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat dituntut lebih kritis dalam menyaring informasi. Tidak semua cerita yang terdengar di lapangan harus langsung dipercaya, apalagi jika sumbernya berasal dari pihak yang kerap memainkan narasi untuk kepentingan pribadi.

Baca Juga :  Cerita Pulau Berhalo

Sudah saatnya lingkungan sosial lebih waspada terhadap oknum-oknum seperti ini. Membangun budaya tabayyun, klarifikasi, dan komunikasi langsung menjadi kunci agar tidak mudah terjebak dalam permainan adu domba yang merugikan banyak pihak.

Pada akhirnya, kehidupan sosial yang sehat hanya bisa terwujud jika setiap individu mampu menjaga lisan, sikap, serta niat dalam berinteraksi bukan menjadikan perpecahan sebagai alat untuk mencari keuntungan pribadi.

Editor: Madi