Ancaman Siber Kini Tak Sekadar Digital, Hacker Mulai Intimidasi Fisik Korban

Hacker disebut menyewa pelaku kriminal untuk mengintimidasi pegawai perusahaan yang menjadi target serangan siber. Foto: Getty Images

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Kejahatan siber kini memasuki babak yang lebih mengkhawatirkan. Jika sebelumnya serangan ransomware hanya berfokus pada pencurian data dan pemerasan digital, kini para pelaku mulai menggunakan ancaman fisik untuk menekan korban agar membayar tebusan.

Dilansir dari BBC News, fenomena ini diungkap oleh Tim Beasley, seorang pekerja di perusahaan keamanan siber Semperis, yang pernah mengalami langsung intimidasi tersebut. Beberapa tahun lalu, ia menemukan sebuah paket misterius di depan rumahnya di Amerika Serikat.

“Saya bingung itu apa. Setelah dibuka, ternyata berisi surat ancaman. Saya langsung membuangnya,” ujar Beasley.

Ancaman itu muncul ketika dirinya terlibat dalam negosiasi ransomware untuk sebuah lembaga pemerintah AS yang menjadi korban serangan siber. Paket tersebut diyakini berasal dari kelompok hacker yang sedang bernegosiasi dengannya.

Data terbaru FBI menunjukkan serangan siber di Amerika Serikat terus melonjak. Jumlah laporan kasus meningkat dari 288 ribu pada 2015 menjadi lebih dari 1 juta kasus pada 2025. Kerugian finansial yang ditimbulkan mencapai US$20,8 miliar atau sekitar Rp340 triliun.

Tak hanya di AS, tren serupa juga terjadi di Inggris dan sejumlah negara Eropa.

Biasanya, kelompok ransomware menyusup ke sistem perusahaan untuk mencuri data atau mengunci akses sistem, lalu meminta uang tebusan. Namun kini, metode intimidasi berkembang lebih jauh dengan ancaman kekerasan langsung terhadap staf perusahaan.

Baca Juga :  Serangan Siber terhadap Bank Jambi: Bagaimana menyikapinya?

Penelitian Semperis menyebut sekitar 40 persen serangan ransomware global sepanjang 2025 disertai ancaman fisik terhadap pegawai yang menolak membayar tebusan. Di Amerika Serikat, angka itu bahkan mencapai 46 persen.

“Ancaman seperti ini sebenarnya sudah lama ada di belakang layar, tapi sekarang mulai menjadi kenyataan,” kata Beasley.

Salah satu kasus terjadi di sebuah rumah sakit yang ditangani perusahaan keamanan Tanium. Para pegawai rumah sakit menerima telepon misterius dari pelaku yang menyebut nama lengkap, alamat rumah, hingga nomor identitas mereka.

“Mereka benar-benar membuat para tenaga medis merasa diawasi,” ujar Zac Warren, penasihat keamanan Tanium untuk kawasan Eropa dan Timur Tengah.

Dalam beberapa kasus, ancaman tidak disampaikan secara langsung, tetapi melalui aksi demonstratif. Pelaku diketahui mampu mengendalikan mesin industri seperti robot dan conveyor belt dari jarak jauh, lalu menyalakan atau mematikannya sesuka hati. Tindakan itu dinilai bisa membahayakan keselamatan pekerja.

Kelompok ransomware sendiri disebut berasal dari berbagai negara seperti Rusia, China, Iran, hingga Korea Utara. Namun sebagian besar ancaman fisik justru datang dari kelompok kriminal yang murni bermotif uang.

Menariknya, banyak pelaku masih berusia muda. FBI mencatat sebagian anggota kelompok kriminal siber tersebut berada di rentang usia 17 hingga 25 tahun.

Menurut Beasley, para hacker biasanya tidak melakukan aksi kekerasan sendiri. Mereka merekrut orang lain melalui forum internet atau media sosial dengan imbalan uang.

Baca Juga :  Komunitas YNCI Chapter Bungo Suskes Gelar Kopdar se Sumatera

“Mereka menawarkan bayaran untuk mengintai, meneror, bahkan menyerang target,” jelasnya.

Kasus paling ekstrem banyak ditemukan di dunia investasi cryptocurrency. Pada Mei lalu, polisi Prancis menyelamatkan ayah seorang miliarder kripto yang diculik di pinggiran Paris. Media lokal melaporkan korban sempat mengalami penyiksaan, termasuk pemotongan jari.

Europol menyebut praktik “violence as a service” atau jasa kekerasan berbayar kini semakin marak. Pelaku dapat disewa untuk melakukan intimidasi, perusakan, penculikan, hingga penembakan.

FBI bahkan telah mengeluarkan peringatan terkait jaringan kriminal daring bernama “In Real Life Com” yang dikenal menyediakan layanan kekerasan untuk membantu aksi pemerasan siber.

Adam Meyers dari CrowdStrike mengatakan kelompok seperti itu memanfaatkan orang-orang dengan kemampuan teknis rendah tetapi bersedia melakukan kekerasan.

“Mereka bisa melempar batu ke rumah korban, membakar properti, melakukan penembakan, bahkan penculikan,” ujarnya.

Menurut Meyers, para investor cryptocurrency juga sering menjadi target karena terlalu terbuka memamerkan kekayaan di media sosial.

“Mereka suka membicarakan keuntungan dan aset kripto mereka secara online. Itu justru menarik perhatian penjahat,” katanya.

Beasley memperingatkan bahwa tren ancaman fisik terkait kejahatan siber kemungkinan akan terus meningkat selama korban masih memilih membayar tebusan demi keselamatan keluarga mereka.

“Orang takut anak mereka diculik. Itu yang dimanfaatkan para pelaku,” tutupnya. (Sum)