Oleh karena itu, penataan keuangan menjadi langkah krusial untuk mencegah siklus utang konsumtif, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Tanpa evaluasi, seseorang berpotensi menggunakan kartu kredit atau pinjaman online untuk menutup kebutuhan sehari-hari hingga gajian berikutnya, yang justru memperberat beban finansial di masa
“Pemahaman pengelolaan keuangan ini sangat penting bagi anak muda, bahkan perlu diajarkan sejak dini agar fenomena ini tidak terus berulang,” tegasnya.
Aris juga menekankan pentingnya evaluasi kondisi keuangan pascalebaran dengan mengaudit seluruh pemasukan dan pengeluaran.
“Periksa mutasi rekening dan catatan pengeluaran selama periode Lebaran. Hitung sisa saldo dan bandingkan dengan kewajiban tagihan yang harus dibayar sebelum gajian berikutnya,” jelasnya
Periksa mutasi rekening dan catatan pengeluaran selama periode Lebaran. Hitung sisa saldo dan bandingkan dengan kewajiban tagihan yang harus dibayar sebelum gajian berikutnya,” jelasnya.
Selain itu, ia menyarankan penerapan prinsip earning, spending, sharing, dan saving melalui metode 50/30/20, yakni mengalokasikan 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau cicilan, dan 20 persen untuk tabungan atau berbagi.
Setelah itu, ubah gaya hidup menjadi lebih minimalis, misalnya dengan mengurangi makan di luar dan biaya hiburan untuk sementara waktu guna menutup pengeluaran Lebaran,” ujarnya.
Aris juga menegaskan bahwa prinsip micro-saving dapat menjadi solusi efektif. Menabung dalam nominal kecil secara rutin, seperti Rp10 ribu atau Rp20 ribu, lebih baik daripada tidak sama sekali.







