Dalam Islam, derajat kemuliaan manusia tidak diukur dari harta, keturunan, atau jabatan, melainkan dari iman, takwa, dan manfaatnya bagi sesama. Lalu, siapa sebenarnya yang disebut sebagai sebaik-baik manusia menurut ajaran Islam?
Sebaik-Baik Manusia Adalah yang Paling Bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)
Hadis ini menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai kemanfaatan sosial. Orang yang selalu berbuat baik, membantu sesama, menebar kebaikan, dan tidak merugikan orang lain—itulah sebaik-baik manusia di mata Allah.
Takwa Sebagai Tolak Ukur Utama
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Takwa mencakup segala aspek kehidupan—ketaatan kepada Allah, kejujuran, kesabaran, serta perilaku baik kepada makhluk-Nya. Jadi, sebaik-baik manusia bukan hanya yang baik kepada manusia, tapi juga yang taat kepada Tuhannya.
Ahlul Qur’an: Golongan Terbaik
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa orang yang dekat dengan Al-Qur’an, memahami dan mengajarkannya, memiliki kedudukan istimewa. Ilmu dan dakwah menjadi jalan kebaikan yang mendatangkan keberkahan dunia dan akhirat.
Kesimpulan: Menjadi Manusia Terbaik Menurut Islam
Berdasarkan hadits dan ayat Al-Qur’an, kita bisa simpulkan bahwa sebaik-baik manusia menurut Islam adalah:
-
Orang yang bermanfaat bagi orang lain,
-
Orang yang paling bertakwa,
-
Dan orang yang mengajarkan serta mengamalkan Al-Qur’an.
Jadi, mari berlomba-lomba menjadi pribadi yang memberi manfaat, menebar kebaikan, dan memperkuat iman. Karena di situlah letak kemuliaan sejati di hadapan Allah.
Editor: Madi






