Opini  

Opini : Penolakan Cagub Narkoboy, Ironi Bagi Jambi yang Berjuang Melawan Narkoba di Tengah Komitmen Nasional

Syaiful Bakri Ketua Forum Masyarakat Peduli Pilkada Jambi (FMP2J). Foto : sidakpost.id/ist

Mereka merasa tidak ada alasan yang cukup kuat untuk mendukung seorang mantan pecandu narkoba menjadi pemimpin, apalagi seorang gubernur yang seharusnya menjadi contoh moral yang baik.

Kepercayaan masyarakat terhadap calon ini semakin tergerus, karena mereka menganggap bahwa seseorang yang pernah hidup dalam dunia hitam narkoba tidak akan memiliki kapasitas untuk mengelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, apalagi untuk menjalankan kebijakan publik yang tegas terhadap narkoba itu sendiri.

Kaum milenial yang awalnya terbuka terhadap calon pemimpin dari berbagai latar belakang, kini meragukan keseriusan calon ini dalam memerangi narkoba, terutama mengingat sejarah kelam yang dimilikinya.

Baca Juga :  Kinerja Birokrasi Diukur Angka, Bukan Manfaat

Mereka khawatir bahwa pengalaman pribadi sebagai pecandu narkoba justru akan menjadi beban yang menghambat kemajuan daerah dan merusak visi serta misi dalam memberantas penyalahgunaan narkoba di Jambi.

Di tengah situasi darurat narkoba yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat Jambi merasa bahwa mendukung calon dengan masa lalu seperti ini justru akan membuat mereka terjebak dalam paradoks besar, di mana calon tersebut bukan hanya tidak mampu menjalankan komitmen pemerintah pusat untuk memerangi narkoba, tetapi berisiko malah memperburuk keadaan.

Baca Juga :  Bursa Calon di Pilkada Bungo 2024, Siapa Saja yang Bakal Maju?

Masyarakat Jambi kini mempertanyakan, apakah mereka benar-benar ingin memilih seorang gubernur yang justru membawa stigma dan keraguan besar dalam upaya menanggulangi peredaran narkoba, atau memilih pemimpin yang benar-benar punya rekam jejak bersih dan mampu mengemban amanah untuk menciptakan provinsi yang lebih baik, bebas dari pengaruh buruk narkoba.