Bang Jeck
Opini  

Memaknai Puasa Melampaui Lapar Dan Haus

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Dengan demikian, esensi puasa terletak pada transformasi karakter yang berkelanjutan. Praktik ini dapat dipahami sebagai proses pembentukan struktur internal yang memungkinkan hadirnya pengendalian diri. Puasa tidak berhenti pada pembatasan fisikal, melainkan bekerja pada tataran disposisi moral, menata relasi antara dorongan, kehendak dan kesadaran normatif.

Dalam hal ini, puasa berfungsi sebagai mekanisme internalisasi batas. Proses tersebut membentuk kemampuan untuk menunda, menimbang dan mengarahkan kecenderungan diri agar tidak sepenuhnya tunduk pada impuls. Transformasi yang diharapkan bukanlah perubahan sesaat, melainkan konfigurasi ulang orientasi batin yang lebih stabil dan konsisten terhadap prinsip etis.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang puasa bukanlah apakah kewajiban tersebut dijalankan atau tidak, melainkan apakah puasa menghasilkan takwa dalam pengertian substantif, yakni kesadaran etis yang membatasi diri bahkan ketika tidak ada pengawasan eksternal. Jika tidak, maka sebagaimana peringatan Nabi, yang tersisa hanyalah lapar dan haus.

Baca Juga :  Rajut Kebersamaan, DPD JOIN Tebo Gelar Buka Puasa Bareng
Baca Juga :  Pastikan Kebutuhan Pokok Aman, Bupati Bungo Cek Gudang Distributor

Dan di situlah puasa kehilangan daya transformatifnya.