Kesederhanaan dan Ketakwaan Jadi Kunci Lahirkan Generasi Hebat, Kata Kiai Cholil Nafis

Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menilai kondisi ekonomi keluarga bukan menjadi ukuran utama dalam menentukan keberhasilan maupun kemuliaan seorang anak.

Menurutnya, keluarga yang hidup sederhana tetapi memiliki landasan ketakwaan dan kesalehan justru dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki prestasi dan kontribusi besar.

Dikutip Sidakpost.id dari laman resmi MUI, Sabtu (20/9/2026), Kiai Cholil mengatakan banyak orang besar lahir dari keluarga yang secara ekonomi tergolong sederhana. Ia juga mengaku kerap menemukan orang yang dahulu menjalani kehidupan biasa, tetapi mampu mendidik anak-anaknya hingga menjadi ulama.

“Dari anak dan keluarga yang sederhana, keluarga yang saleh, justru lahirlah orang-orang yang hebat. Saya banyak sekali bertemu dengan orang yang dulunya biasa saja, bahkan hanya seorang pelayan, tetapi karena cinta pada ulama, sekarang anak-anaknya justru menjadi seorang ulama,” ujar Kiai Cholil Nafis, Jumat (17/9/2026).

Baca Juga :  Buya Yahya: Gaji Besar Tak Menjamin Bahagia, Hindari Gaya Hidup Berlebihan

Kiai Cholil yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu menuturkan, keberlimpahan materi tidak otomatis membentuk karakter dan keimanan anak. Menurutnya, pola hidup yang berlebihan justru dapat menjadi tantangan dalam menjaga kedekatan anak dengan nilai agama.

“Saya sampai sekarang belum menemukan anak orang yang kaya raya dengan gaya hidup foya-foya yang menjadi penghafal Alquran. Sebaliknya, dari keluarga yang sederhana dan beriman, Allah berikan nikmat anak-anak yang mampu menghafal Alquran,” ungkapnya.

Baca Juga :  Makna dan Hikmah Ramadhan dalam Kehidupan Muslim

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak merasa rendah diri ketika kondisi ekonomi keluarga belum berlimpah. Sebab, menurut Kiai Cholil, keluarga yang memiliki pasangan saleh dan anak-anak yang baik merupakan bentuk rezeki yang tidak dapat semata-mata diukur dengan materi.

“Punya suami yang saleh, istri yang salihah, dan anak yang baik-baik, itulah rezeki yang sangat besar. Coba bayangkan, orang kaya punya uang banyak belum tentu bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Tapi orang sederhana yang diberi nikmat oleh Allah, anaknya bisa kuliah di luar negeri bahkan mendapatkan beasiswa,” tegas Kiai Cholil. (sum)