Hati Tenang dengan Dzikir, Kiai Niam: Jangan Biarkan Emosi Menguasai Diri

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh. Foto: Dok. mui.or.id

SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Ketenangan hati menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Salah satu cara yang ditekankan dalam ajaran Islam untuk menjaga ketenangan tersebut ialah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.

Pesan itu disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, saat memberikan tausiah dalam pengajian rutin Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026).

Dalam pengajian yang membahas Kitab Nashaihul Ibad tersebut, Kiai Niam menjelaskan bahwa ketenangan jiwa berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika berada dalam tekanan.

“Ingat, dengan dzikir kepada Allah akan menyebabkan hati tenang. Nah, salah satu kunci kesuksesan itu adalah ketenangan hati. Salah satu faktor kegagalan di dalam hidup, apa? Kesemberonoan dan ketidaktenangan hati,” ujar Kiai Ni’am, dikutip dari mui.or.id, Senin (21/9/2026).

Pengajian tersebut digelar setiap Sabtu pagi pukul 05.15 hingga 06.00 WIB dan diikuti para santri Pondok Pesantren An-Nahdlah. Kegiatan juga disiarkan melalui Zoom sehingga dapat diikuti jamaah dari berbagai daerah.

Menurut Kiai Niam, manusia tidak hanya menghadapi gangguan kesehatan secara fisik, tetapi juga dapat mengalami persoalan rohani. Kondisi tersebut antara lain ditandai dengan iri, dengki, sifat pelit, egois hingga enggan menjaga silaturahmi.

“Fisik yang sehat, tetapi rohaninya, qalbunya sakit. Punya banyak harta fisik, tetapi dia pelit. Itu berarti rohani. Hebat dia punya intelektualitas, punya ilmu, tetapi dia egois. Dia gak mau kerja sama. Itu penyakit rohani,” kata dia.

Baca Juga :  Keutamaan Bulan Rajab: Bulan Penuh Berkah dalam Islam

Ia menilai persoalan rohani perlu ditangani dengan pendekatan yang sesuai. Karena itu, masyarakat perlu mengenali jenis persoalan yang dihadapi dan mencari solusi melalui pendekatan keagamaan.

Kiai Niam juga mengaitkan ketenangan hati dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Ia mencontohkan wawancara kerja, ujian masuk perguruan tinggi maupun proses kenaikan pangkat.

Menurutnya, rasa gugup yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan sementara pengetahuan atau hafalan yang sebenarnya telah dikuasai.

“Jangan pernah lupa untuk berdzikir dan membaca shalawat yang akan melahirkan ketenangan. Sementara ketenangan akan melahirkan konsentrasi penuh kita,” tuturnya.

“Dan konsentrasi penuh akan menghasilkan apa yang disebut dengan mekanisme recalling, mekanisme memanggil apa yang pernah kita tahu,” sambungnya.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya menjadikan dzikrullah sebagai kebiasaan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat membentuk respons positif ketika seseorang menghadapi situasi yang mengejutkan maupun penuh tekanan.

Selain dzikir, Kiai Niam mengingatkan pentingnya kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi kegagalan atau kenyataan yang tidak sesuai harapan.

“Kalau nggak mampu mengendalikan emosi, nggak mampu mengendalikan diri, itu sudah bisa down, nggak mau ketemu orang, bahkan bunuh diri,” tutur dia.

Menurutnya, kondisi emosional yang muncul secara spontan perlu dikendalikan dengan akal dan hati sehingga seseorang tidak mengambil tindakan yang merugikan diri sendiri.

Baca Juga :  Buya Yahya Ungkap Dzikir yang Bisa Menenangkan Jiwa dan Menghilangkan Rasa Cemas, Amalkan Pagi dan Sore

“Baru setelah itu dinormalisasi dengan akal pikir kita. Kita menjadi hebat itu kan karena dikendalikan oleh akal dan hati,” tutur dia menasihati.

Lebih lanjut, Prof Niam menyampaikan tiga langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan jiwa sebagaimana pesan para ulama hikmah dalam Kitab Nashih al-‘Ibad.

Pertama, memperbanyak dzikrullah melalui lisan dan hati secara istiqamah. Kedua, memperbanyak interaksi dan silaturahmi dengan para ulama, kiai serta orang-orang saleh.

Ketiga, membiasakan diri mendengarkan nasihat dan pemikiran yang memberikan manfaat, termasuk gagasan para ulama dan tokoh yang mengarahkan kepada kebaikan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghindari kebiasaan membicarakan aib dan kekurangan orang lain. Menurutnya, kualitas pembicaraan seseorang dapat dilihat dari tema yang dibahas, mulai dari membicarakan kejelekan orang lain hingga pembahasan mengenai ilmu, gagasan dan masa depan.

Di akhir tausiah, Ketua Majelis Alumni IPNU itu mengajak umat Islam tetap optimistis dalam menghadapi perubahan kehidupan. Sebab, kehidupan tidak selalu berada dalam kondisi yang sama, baik dalam kesehatan, pekerjaan maupun keberhasilan.

“Tetapi percayalah ujung-ujungnya adalah melahirkan kebaikan jika kita memiliki penyikapan yang bersifat baik, husnudzon billah, pakai tsiqah bin nafsi (percaya diri) dan kemudian kita tetap optimis dengan dzikrullah,” kata Kiai Ni’am. (sum)