Salah satu isu krusial adalah konektivitas antarwilayah, yang menjadi prasyarat mutlak bagi berfungsinya kawasan industri. Rencana pembangunan jalan tol Jambi–Rengat dan jalur kereta logistik Muaro Jambi–Ujung Jabung merupakan inisiatif strategis yang perlu segera direalisasikan. Tanpa dukungan infrastruktur konektivitas yang solid, efisiensi logistik akan terganggu, dan daya saing kawasan industri terancam stagnan.
Pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung dan Kawasan Industri Kemingking diharapkan dapat menjadi katalis hilirisasi komoditas unggulan Jambi, mulai dari kelapa sawit, karet, kelapa, pinang, hingga batubara ke dalam industri bernilai tambah tinggi. Namun hambatan tak hanya bersifat spasial dan legal-formal; persoalan energi juga menjadi tantangan utama.
Kebutuhan daya kawasan industri diperkirakan mencapai 250 megawatt (MW), sementara pasokan listrik aktual di wilayah ini baru berkisar 150 MW, sebuah defisit yang menghambat masuknya investasi hilir secara signifikan (opendata.jambiprov.go.id).
Padahal secara agregat, PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) mencatatkan kapasitas daya sebesar 3.673 MW pada pertengahan 2025, dengan beban puncak siang hari sekitar 1.247 MW, malam hari 1.537 MW, dan cadangan daya mencapai 1.137 MW (antaranews.com).
Sayangnya, distribusi daya masih belum merata dan belum diarahkan secara prioritas untuk mendukung kawasan industri yang sedang tumbuh. Namun pengembangan kawasan industri tidak bisa dilepaskan dari dimensi sosial dan ekologis yang menyertainya.
Rencana Spasial dan Tantangan Implementasi Transformasi hilirisasi membutuhkan SDM yang adaptif dan siap menghadapi tantangan industrialisasi modern.








