Bang Jeck

Dari Hulu ke Hilir: Saatnya Jambi Menjadi Pusat Industri Bernilai Tambah

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M.AP Akademisi UIN STS Jambi

Selain itu, komoditas perkebunan seperti kopi dan coklat turut memperkuat struktur agrikultur Jambi, terutama di wilayah dataran tinggi seperti Kerinci dan Merangin, meskipun kontribusinya terhadap ekspor masih relatif kecil dibandingkan komoditas utama lainnya (opendata.jambiprov.go.id.).

Namun sebagian besar dari kekayaan ini masih dijual dalam bentuk bahan mentah, dengan minimnya fasilitas pengolahan lanjutan di dalam wilayah Jambi. Kondisi ini membuat multiplier effect ekonomi daerah sangat terbatas, memperlebar kesenjangan antara potensi dan realisasi kesejahteraan masyarakat.

Kesenjangan Infrastruktur: Realitas Hambatan Hilirisasi Gagasan hilirisasi tidak akan berjalan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Jalan produksi, pelabuhan ekspor, kawasan industri, jaringan listrik dan air baku, hingga infrastruktur digital adalah elemen vital. Saat ini, dari total 1.270 km jalan provinsi, hanya sekitar 68 persen dalam kondisi mantap (Dinas PUPR Provinsi Jambi, 2024).

Baca Juga :  Menjadi Jurnalis Bahagia: 5 Kebiasaan Positif yang Mengubah Hidup

Kondisi jalan yang belum optimal berdampak langsung pada biaya logistik, keterlambatan distribusi, dan rendahnya efisiensi produksi sektor hilir.

Baca Juga :  Kisah Perempuan-perempuan Pertama Indonesia yang Ahli di Bidangnya

Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., dalam sidang DPRD pada 29 Juli 2025 menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jambi dalam satu tahun terakhir dan beberapa tahun ke depan mengutamakan pembangunan infrastruktur ke sentra-sentra produksi unggulan di kabupaten/kota.

Strategi ini diambil sebagai respons terhadap keterbatasan anggaran, dengan prioritas infrastruktur pada sektor pertanian, perkebunan, industri, dan kawasan perkotaan yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.