Di ujung sebuah desa yang asri, ada sebatang pohon besar yang menjadi rumah bagi seekor burung pipit dan anaknya. Sang anak, Piko, sangat lincah dan ingin segera belajar terbang seperti teman-temannya.
Setiap pagi, Ibu Pipit mengajarkan Piko mengepakkan sayap dan melompat dari dahan ke dahan. Namun, Piko cepat bosan. Ia berkata, “Aku ingin terbang tinggi ke langit seperti burung dewasa lainnya!”
Ibu Pipit menahan, “Sabar, Nak. Sayapmu belum cukup kuat. Kita berlatih sedikit demi sedikit agar kau tidak jatuh.”
Tapi suatu hari, saat ibunya pergi mencari makan, Piko mencoba terbang sendiri. Awalnya ia bisa melayang, tapi tiba-tiba angin kencang bertiup dan membuatnya hilang kendali. Ia terjatuh di semak belukar dekat sawah.
Piko terluka dan tidak bisa terbang lagi. Ia menangis dan memanggil ibunya. Untung, suara tangisannya terdengar dan Ibu Pipit datang menolong.
Di rumah, Piko beristirahat sambil menangis menyesal. Ia menyadari bahwa ibunya tidak pernah ingin mengekangnya, melainkan melindunginya.
Sejak saat itu, Piko menjadi burung kecil yang taat, rajin berlatih, dan selalu menghormati nasihat ibunya.
Pesan Moral: Jangan terburu-buru merasa bisa segalanya. Dengarkan orang tua karena mereka lebih tahu mana yang aman dan mana yang berisiko.
Editor: Madi







