Cegah Radikalisme dan Terorisme, Wagub Abdullah Sani Ajak Generasi Muda Perangi Propaganda Digital

Wagub Jambi Abdullah Sani membuka Workshop Digital Peace Creator di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi. Foto: Aisyah

Karena itu, generasi muda diharapkan mampu mengambil peran dengan menghadirkan konten-konten positif, edukatif, serta mampu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya toleransi dan persatuan.

“Dengan inovasi dan gagasan kreatif dari generasi muda, ide-ide dalam konten media sosial diharapkan sesuai dengan tren saat ini sehingga pesannya lebih mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.

Melalui Workshop Digital Peace Creator, para pelajar didorong menjadi kreator perdamaian dengan memproduksi konten bernuansa moderasi beragama, semangat kebangsaan, dan toleransi menggunakan pendekatan yang dekat dengan karakter Generasi Z.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris: Pemprov Jambi Dukung Maksimal Program Pusat, Dorong Perekonomian Daerah

Abdullah Sani menegaskan, pencegahan radikalisme dan ekstremisme tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, mulai dari camat, lurah, kepala desa, Dinas Pendidikan hingga lingkungan keluarga.

Pemprov Jambi juga mengintegrasikan materi pencegahan ke dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler di satuan pendidikan, serta berkoordinasi dengan Kementerian Agama untuk mengoptimalkan peran penyuluh agama dalam memperkuat moderasi beragama.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat, terutama dalam meningkatkan literasi digital agar masyarakat mampu menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh propaganda yang mengarah pada kekerasan.

Baca Juga :  Bupati Bungo Lantik Eka Yasa Sebagai Direktur PDAM Pancuran Telago

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik BNPT, Slamet Riyadi, mengapresiasi antusiasme para pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut.

Menurutnya, perlindungan generasi muda dari pengaruh paham ekstrem membutuhkan pendekatan yang tepat, termasuk memperkuat peran orang tua dan keluarga sebagai benteng pertama dalam mencegah penyebaran radikalisme.