Makna “Shadiqan” dan “Kadziban”
Buya Yahya menjelaskan, apabila ada ulama yang menerima tambahan riwayat tersebut sebagai hadis yang sahih, maka makna “shadiqan” dipahami sebagai seseorang yang membaca dzikir dengan penuh keyakinan dan menghadirkan hati kepada Allah.
Sementara itu, kata “kadziban” tidak dimaknai sebagai berdusta, melainkan seseorang yang membaca dzikir dalam keadaan lalai atau tidak fokus terhadap apa yang sedang diucapkannya.
Untuk memudahkan pemahaman, Buya Yahya memberikan ilustrasi seseorang yang bermaksud menunjukkan arah ke kiri, tetapi lisannya justru mengucapkan kanan karena tidak fokus. Menurutnya, kondisi tersebut menggambarkan ketidaksesuaian antara apa yang dipikirkan dan apa yang diucapkan, bukan kebohongan yang disengaja.
Ajakan Menghadirkan Hati Saat Berdzikir
Melalui kajian tersebut, Buya Yahya mengingatkan bahwa dzikir bukan sekadar bacaan yang diucapkan oleh lisan. Seorang Muslim juga dianjurkan menghadirkan hati, memahami makna setiap kalimat yang dibaca, serta bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
Dengan demikian, dzikir menjadi salah satu amalan yang dapat membantu menenangkan hati, memperkuat keimanan, sekaligus menjadi bentuk ikhtiar spiritual dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.








